Doa Iftitah Dalam Shalat Ied

Posted on Agustus 4, 2014

0


Perlu diketahui bahwa secara umum sesungguhnya membaca doa iftitah dalam salat hukumnya sunah, karena ia tidak termasuk dalam rukun salat. Oleh karena itu, membaca ataupun tidak, tidak menjadikan sebab batal ataupun sahnya salat, namun hanya menjadi keutamaan karena telah melaksanakannya.

Tidak ada dalil

khusus yang menjelaskan tentang anjuran secara spesifik untuk membaca doa iftitah dalam salat id. Meskipun begitu, hukum membaca doa iftitah dalam salat id hukumnya tetap sunah dengan mengambil dalil tentang keumuman membaca doa iftitah dalam salat.

حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْكُتُ بَيْنَ التَّكْبِيرِ وَبَيْنَ الْقِرَاءَةِ إِسْكَاتَةً قَالَ أَحْسِبُهُ قَالَ هُنَيَّةً فَقُلْتُ بِأَبِي وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللهِ إِسْكَاتُكَ بَيْنَ التَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةِ مَا تَقُولُ قَالَ أَقُولُ اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ. [رواه البخاري

Artinya: “Telah mewartakan kepada kami Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah saw diam antara takbir dan membaca al-Fatihah. Ia (Abu Zur’ah) berkata: aku mengira Abu Hurairah berkata, ‘diam sebentar’.  Lalu aku berkata: wahai Rasulullah, demi bapak dan ibuku! engkau berdiam antara takbir dan membaca al-Fatihah. Apa yang engkau baca di antaranya? Beliau bersabda, aku membaca: Ya Allah, jauhkanlah diriku dengan kesalahanku sebagaimana engkau jauhkan antara timur dan barat. Ya Allah bersihkanlah diriku dari segala kesalahan sebagaimana bersihnya kain putih dari kotoran. Ya Allah cucilah segala kesalahanku dengan air, salju dan embun.” [HR. al-Bukhari]

Hadis tersebut masih bersifat umum, karena tidak dijelaskan salat apa saja yang disyariatkan untuk membaca doa iftitah, sehingga hadis ini mencakup semua salat yang tidak ada dalil spesifik tentang bacaan doa iftitah apa yang dianjurkan untuk dibaca. Penerapan keumuman dalil ini sesuai dengan kaidah ushuliyah yang mengatakan;

إِذاَ وَرَدَ فيِ النَّصِّ الشَّرْعِيِّ لَفْظُ عَامٍ وَلَمْ يَقُمْ دَلِيْلٌ عَلَى تَخْصِيْصِهِ وَجَبَ حَمْلُهُ عَلَى عُمُوْمِهِ.

Artinya: “Apabila dalam nash syar’i ada lafal yang umum dan tidak ada satu dalil pun yang mentakhsisnya, maka wajib membawa (mengamalkan) nash itu pada keumumannya.” (Abdul Wahab Khalaf, ‘Ilmu Ushul al-Fiqh, hal. 181)

Perlu diketahui juga tentang kapan doa iftitah itu dibaca. Dari hadis yang disebutkan di atas, dapat ditarik pemahaman dari kata “Rasulullah saw diam antara takbir dan membaca al-Fatihah”, bahwa doa iftitah dibaca sesudah takbiratul ihram dan sebelum membaca surat al-Fatihah, sehingga doa iftitah itu dibaca setelah takbir tujuh kali dalam salat id.

Untuk doa iftitah yang dibaca bisa menggunakan beberapa alternatif yang diajarkan Rasulullah saw, seperti doa iftitah yang terdapat dalam hadis di atas, yakni do’a nya sebagai berikut;

اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ.

Demikian tulisan ini semoga bermanfaat.

Wallahu a’lam bishshawab.

Ditandai: , ,
Posted in: /Artikel