Rahasia Kebahagiaan Rumah Tangga Rasulullah SAW

Posted on Januari 5, 2014

0


Bagi para suami Jika kalian ingin istrimu menjadi seperti Khadîjah, maka jadilah kamu seperti Muhammad untuknya!” Nabi kita Saw. memang merupakan teladan ideal tentang bagaimana seharusnya seorang suami memperlakukan istrinya. Ada suami yang habis-habisan memaki istrinya hanya karena sang istri terlambat menyiapkan makan. Ada lagi suami memukul istrinya cuma karena sang istri tidak membuatkan secangkir teh untuk sang suami. Di tempat lain seorang istri harus rela ditampar suami hanya karena si istri terlalu banyak menambahkan garam pada makanan yang dibuatnya.

Kejadian-kejadian ini mengabarkan hubungan yang tidak sehat antara suami dan istri. Pangkal dari ketidaksehatan hubungan itu adalah dominasi dan superioritas suami atas istri. Tidak sedikit suami yang membebani istrinya dengan tugas-tugas melebihi kemampuannya dengan dalih bahwa kewajiban istri adalah taat terhadap semua perintah suami. Banyak kaum suami hanya melihat hak-hak di tangannya tanpa memperhatikan kewajiban-kewajiban di pundaknya.

Sesungguhnya, untuk keluar dari kemelut rumah-tangga, untuk terbebas dari belitan disharmoni suami-istri, hanya satu solusi yang tersedia. Yaitu meneladani sunnah Nabi dalam mengelola dan menakhodai kehidupan rumah-tangganya. Ucapan, tindakan, serta sikap Nabi dalam membina dan mengelola rumah-tangganya merupakan contoh terbaik bagi para suami, kapan dan di mana pun.

Tulisan ini, selain diharapkan menjadi pencerahan dan panduan bagi para suami dalam memperlakukan para istri, juga terutama merupakan seruan bagi para pengritik dan penuduh Nabi yang masih saja mempersoalkan jumlah istri beliau. Kepada mereka bab ini hendak berkata, “Mengapa kalian masih saja berkutat menyoal perkawinan Nabi dengan banyak istri? Ketimbang hanya mempergunjingkan soal jumlah istri serta motif di balik pernikahan beliau, setidaknya lihatlah sisi lain dari rumah-tangga Nabi; bagaimana harmoni yang beliau bangun dengan para istrinya, seperti apa perlakuan dan sikap yang beliau kembangkan terhadap mereka, dan banyak lagi seluk-beluk yang perlu digali pada sisi ini. Yang jelas, semua pembahasan tentang aspek ini akan bermuara pada satu simpulan; Sang Nabi adalah teladan terbaik.”

1. Akhlak Rasulullah Saw. terhadap Para Istrinya
Berikut beberapa perilaku santun dan perangai mulia Baginda Nabi dalam berumah tangga:
1. Lembut dan Penuh Kasih
Rasulullah Saw. adalah seorang suami yang sangat meninggikan kedudukan para istrinya dan amat menghormati mereka. ‘Â`isyah bercerita tentang hal ini:
Sekelompok orang Habasyah masuk masjid dan bermain di dalamnya. Ketika itu Rasulullah Saw. berkata kepadaku, “Wahai Humayrâ`, apakah kamu senang melihat mereka?” Aku menjawab, “Ya.” Maka beliau berdiri di pintu rumah. Aku menghampirinya. Kuletakkan daguku di atas pundaknya dan kusandarkan wajahku ke pipinya. Di antara ucapan mereka (orang-orang Habasyah) waktu itu, ‘Abû al-Qâsim (Rasulullah) orang baik.’ Lalu Rasulullah berkata, “Cukup.” Aku berkata, “Ya Rasulullah, jangan tergesa-gesa.” Beliau pun berdiri lagi untukku. Kemudian beliau berkata lagi, “Cukup.” Aku berkata, “Jangan tergesa-gesa, ya Rasulullah.” Bukan melihat mereka bermain yang aku suka, melainkan aku ingin para perempuan tahu kedudukan Rasulullah bagiku dan kedudukanku dari beliau.”[1]
Bayangkan seorang istri berdiri di belakang suaminya untuk melindunginya. Kemudian sang istri meletakkan dagunya di pundak sang suami, wajah sang istri menempel di pipi sang suami. Sang istri meminta sang suami berdiri lebih lama untuknya. Mereka berdiri di pintu rumah sambil memerhatikan orang-orang yang sedang bermain di masjid depan rumah. Kemudian sang istri bertutur, “Sesungguhnya bukan orang-orang yang sedang bermain itu yang menarik perhatianku. Bukan pemandangan itu yang membuatku ingin berlama-lama berdiri di sini bersama suami. Aku hanya ingin para istri tahu kedudukanku bagi suamiku dan kedudukan suamiku bagiku.” Bersama itu, sang suami dengan sabar memenuhi permintaan sang istri terkasih, demi cinta padanya dan guna menjaga perasaannya.
Betapa pun banyak dan beratnya tanggung jawab yang harus dipukul Sang Rasul, beliau tidak pernah lupa akan hak-hak para istrinya. Beliau memperlakukan mereka dengan amat lembut dan penuh kasih. Tidak pernah sedikit pun beliau mengurangi hak mereka. Beliaulah yang dalam salah satu haditsnya bersabda, “Kaum perempuan (para istri) adalah saudara kandung kaum laki-laki (para suami).”[2]
Hadits ini menjadi dalil bahwa beliau tidak pernah menganggap kecil kedudukan para istrinya. Beliau menempatkan mereka pada kedudukan yang setara dengan beliau dan memposisikan mereka pada posisi yang agung. Bagaimana tidak, pada diri seorang istri tersandang sejumlah predikat mulia: ibu, istri, saudara perempuan, bibi, dan anak perempuan.

2. Pengakuan di Depan Publik
Pada saat banyak suami menganggap bahwa sekadar menyebut nama istri di depan orang lain dapat mengurangi harga diri, kita mendapati Rasulullah justru menampakkan cintanya pada para istrinya di depan umum. Shafiyah binti Huyay mendatangi Rasulullah saw. sewaktu beliau beri’tikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Kemudian ia berbincang dengan beliau beberapa waktu. Ia berdiri untuk pulang. Rasulullah pun ikut berdiri mengantarkan Shafiyah pulang. Ketika Shafiyah dan Rasulullah sampai di depan pintu Ummu Salamah, dua orang Anshâr lewat dan memberi salam kepada Rasulullah. Kepada dua orang Anshâr itu beliau bersabda, “Perhatikanlah baik-baik oleh kamu berdua, dia ini tidak lain Shafiyah binti Huyay.”[3]

3. Tempat Bersandar di Kala Susah
Nabi Saw. adalah suami yang sangat memahami kondisi para istrinya, baik kondisi fisik maupun psikis. Dua kondisi ini dari satu waktu ke lainnya dapat berubah-ubah. Nabi Saw. sangat pandai memahami hal itu terhadap para istrinya. Maymûnah, salah satu istri Nabi, berkata, “Suatu kali Rasulullah mendatangi salah seorang dari kami. Salah seorang dari kami itu sedang haid. Maka beliau meletakkan kepalanya di dada istrinya yang sedang haid itu, lalu beliau membaca al-Qur`an.”[4]
Pada kali lain, Rasulullah Saw. berupaya begitu rupa menenangkan salah satu istrinya yang sedang mengalami tekanan batin. Pada suatu hari, beliau mendatangi Shafiyah binti Huyay. Beliau menemukan Shafiyah sedang menangis. Kepadanya beliau bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Shafiyah menjawab, “Hafshah berkata bahwa aku anak orang Yahudi.” Beliau berkata, “Katakan padanya, suamiku Muhammad, ayahku Hârûn, dan pamanku Mûsâ!”[5]
Terlihat bagaimana Baginda Nabi menyelesaikan masalah dengan kata-kata sederhana namun mengandung makna yang dalam.

4. Selalu Siaga Membantu Para Istri
Pada saat banyak suami yang enggan sekadar membantu istrinya karena dianggap dapat menurunkan reputasi sang suami, kita dapati Rasulullah Saw. tidak pernah terlambat membantu para istrinya. ‘Â`isyah pernah ditanya tentang apa yang dilakukan Nabi Saw. di rumahnya? Ia menjawab, “Beliau selalu melayani (membantu) istrinya.”[6]

5. Bermusyawarah Sebelum Mengambil Keputusan
Di kala banyak suami memandang istrinya kurang akal dan agama, Rasulullah yang mulia tidak pernah segan atau merasa keberatan mendengar serta mengambil pendapat istrinya. Ini terlihat ketika beliau meminta pendapat Ummu Salamah dalam perjanjian Hudaybiyah. Waktu itu beliau memerintahkan para sahabat untuk mencukur rambut dan menyembelih hewan kurban, namun mereka tidak mau melakukannya. Melihat respon para sahabat tersebut, Baginda Nabi masuk ke tenda Ummu Salamah. Begitu beliau menceritakan kepada Ummu Salamah apa yang beliau terima dari para sahabat, Ummu Salamah langsung mengajukan pendapat yang cerdas. Ia berkata: “Keluarlah, ya Rasulullah, kemudian engkau bercukur lalu potong hewan kurban lalu!” Beliau pun keluar dari tenda, bercukur lalu memotong kurban. Melihat hal itu, sontak para sahabat bangkit; mereka serempak bercukur lalu memotong hewan kurban.[7]

6. Tetap Santun Meski Saat Marah
Di kala tidak sedikit para suami yang ringan tangan kepada para istri saat mereka melakukan kesalahan, kita mendapati Sang Nabi tetap bijak, lembut, dan santun dalam memperlakukan para istrinya saat terjadi silang-pendapat atau perselisihan antara beliau dan mereka. Ketika kemarahan beliau agak tinggi, maka pergi menjauhi istri untuk sementara waktu menjadi pilihannya. Tidak pernah beliau menampar satu pun dari istrinya. Beliau menjauhi para istrinya pada saat mereka mendesaknya menuntut nafkah.
Bahkan ketika Rasulullah berniat mencerai salah satu istrinya, kita mendapati beliau tetap santun, lembut dan penuh kasih. Sawdah binti Zam’ah yang sudah tua, tidak cantik, dan berbadan gemuk, merasa bahwa jatahnya dari hati Rasulullah hanya rasa kasihan, bukan cinta. Rasulullah pun kemudian berpikir untuk menceraikan Sawdah secara baik-baik guna membebaskannya dari keadaan yang dianggap membebaninya dan memberatkan hatinya. Dengan sabar Rasulullah menunggu sikap dan jawaban Sawdah atas niat beliau untuk menceraikannya.[8]
Kesantunan, kesabaran dan keterkendalian diri Nabi saw. tetap terpelihara, bahkan ketika ujian terberat menerpa dan mengguncang rumah tangga beliau, yaitu saat terjadi apa yang disebut hâdits al-ifk. Sikap Nabi kala itu sungguh merupakan teladan bagi setiap Muslim. Ketika hâdits al-ifk ini tersebar, dengan kelembutannya yang khas dan tidak pernah luntur, Rasulullah berbicara kepada ‘Â`isyah:
Amma ba’d. Wahai ‘Â`isyah, sesungguhnya telah sampai kepadaku tentangmu begini dan begitu. Jika kamu bebas (tidak melakukannya), maka Allah akan membebaskanmu, dan jika kamu pernah melakukan dosa maka mohonlah ampun kepada Allah dan tobatlah kepada-Nya.[9]
Sampai akhirnya Allah menurunkan ayat pembebasan yang membuat tenang dan gembira hati Nabi, ‘Âisyah dan kaum Muslim semuanya.
Meski Rasulullah saw. memiliki kedudukan yang agung dan posisi yang tinggi serta memanggul tugas mengurus umat Islam seluruhnya, namun kelembutan dan kesantunan beliau dalam memperlakukan para istrinya sungguh mengagumkan. Tidak seperti kebanyakan suami yang sering menjadikan kesibukan kerja dan urusan-urusan di luar rumah sebagai dalih kurangnya perhatian terhadap para istri mereka. Perlu diingatkan bahwa berperilaku baik terhadap istri bukan hanya tidak menyakitinya, tapi juga siap menerima perlakuan kurang baik darinya serta tetap lembut terhadapnya ketika ia marah.

7. Romantika dan Harmoni Rumah Tangga Nabi Saw.
Dalam rangka memuliakan, menghormati dan menggembirakan istri, Nabi Saw. menjelaskan kepada umatnya bahwa bercanda-ria dan bersenda-gurau (bermesraan) dengan istri termasuk perbuatan berpahala bagi suami. Beliau bersabda, “Segala yang melalaikan seorang Muslim adalah batil, kecuali memanah, melatih kuda, dan bercanda-ria dengan istri; ini semua termasuk kebenaran.”[10]
Perhatikan bagaimana Rasulullah Saw., pemimpin besar umat Islam, pengemban risalah agung kemanusiaan yang hati dan pikirannya tercurah memperjuangkan kebaikan umat serta kejayaan Islam, adalah seorang suami yang romantis. Tangannya yang mulia nan suci tidak segan-segan menyuapi para istrinya. Dituangkannya air ke dalam cangkir lalu diberikannya pada istrinya. Suatu hari beliau menjenguk salah satu sahabatnya yang sedang sakit. Kepadanya beliau bersabda, “Bahkan suapan yang kamu angkat ke mulut istrimu, itu bernilai sedekah untukmu.”[11]
Betapa indah Islam. Sungguh menyeluruh ajaran-ajarannya. Memang hanya suapan. Namun ia mendekatkan pasangan suami-istri sehingga satu sama lain saling merasa nyaman dan tenang berada di sisi pasangannya. Memang hanya suapan. Tetapi ia dapat memantik cinta dan kasih-sayang di antara suami-istri. Memang hanya suapan. Tapi ia menorehkan senyum di bibir suami-istri yang saling menyayangi. Memang hanya suapan. Namun rasa sehati dan sehaluan yang ditimbulkannya menularkan romantika dan harmoni antara suami-istri.
Lihatlah Baginda Rasul, bagaimana beliau minum satu gelas dengan para istrinya. Dengarkan penuturan ‘Â`isyah berikut:
Aku minum, ketika itu aku sedang haid, lalu aku memberikannya kepada Nabi Saw. Beliau meletakkan mulutnya pada tempat (bekas) mulutku lalu minum. Aku menggigit daging, ketika itu aku sedang haid, lalu memberikannya kepada Nabi Saw. Beliau meletakkan mulutnya pada tempat (bekas) mulutku.[12]
Sungguh indah apa yang diperagakan Sang Nabi. Sungguh mengagumkan apa yang beliau teladankan untuk umatnya. Pribadi agung dan mulia itu tidak canggung menunjukkan cinta dan kemesraannya terhadap para istrinya.
“Ritual” lain yang kerap Nabi Saw. lakukan terhadap istri-istrinya dalam rangka memupuk romantisme dan harmoni rumah tangga adalah mengecup istri. Dalam keadaan puasa pun beliau mengecup ‘Â`isyah. Ia bertutur, “Rasulullah Saw. mendekatiku untuk mengecupku. Aku katakan bahwa aku sedang berpuasa. Beliau bersabda, ‘Aku juga sedang berpuasa.’ Beliau menghampiriku lalu mengecupku.”[13]

Kemudian, bagi Nabi Saw. yang mulia dan agung, membantu mengerjakan tugas-tugas rumah tangga bukanlah perbuatan yang menurunkan harkat dan martabat beliau, justru memperteguh keluhuran akhlak beliau. Perhatikan bagaimana junjungan alam, pemimpin umat Islam, dan pemuka seluruh manusia itu tidak pernah merasa malu mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, membantu para istrinya, memperbaiki sandalnya, menjahit sendiri pakaiannya, mengolah bahan makanan dan lain sejenisnya. Alih-alih merendahkan derajat sang suami, hal itu justru memperteguh tali kasih pasangan suami-istri. Hal itu juga akan mematri perasaan istri bahwa sang suami penuh perhatian, peduli, dan siaga dalam membantu meringankan tugas-tugas dirinya.
Maka, bagi pribadi Nabi Saw. yang seperti digambarkan di atas, bukan perkara berat untuk melakukan kerja-sama dengan para istrinya dalam urusan-urusan ‘ubudiyah seperti shalat, sedekah serta kewajiban dan amal-amal sunnah lainnya, seperti kerja-sama (saling membangunkan) untuk shalat malam. Beliau pernah bersabda:

Allah merahmati seorang suami yang bangun malam lalu shalat lalu membangunkan istrinya, kemudian istrinya juga shalat. Jika istrinya enggan bangun, ia memercikan air ke wajahnya. Allah merahmati seorang istri yang bangun malam, lalu shalat lalu membangunkan suaminya, kemudian suaminya juga shalat. Jika suaminya enggan bangun, ia memercikan air wajahnya.[14]
Beliau juga bersabda:
Subhânallâh. Fitnah apa yang telah diturunkan malam ini dan rahmat apa yang telah diturunkan. Siapa lagi yang akan membangunkan para penghuni kamar-kamar (istri-istri)? Duhai, betapa banyak yang berpakaian di dunia tapi telanjang di akhirat.[15]
Hadits di atas mengandung beberapa pelajaran, di antaranya himbauan agar para suami membangunkan istrinya di malam hari untuk beribadah. Indah sekali sepasang suami-istri bangun malam hari. Keheningan suasana menambah ketenangan dan ketenteraman jiwa mereka. Di hadapan Sang Pencipta keduanya meratakan dahi, rukuk, sujud mengakui kelemahan diri, menyatakan kepasrahan total pada Sang Mahakuasa. Kedua tangan mereka lalu menengadah memohon yang terbaik dari Yang Mahabaik. Airmata mereka meleleh memastikan ketulusan doa dan asa yang mereka panjatkan pada Yang Maha Pengabul doa.

‘Â`isyah menceritakan sepotong kisah indah bersama Rasulullah saw.:
Pada suatu malam, ketika beliau tidur bersamaku dan kulitnya sudah bersentuhan dengan kulitku, beliau berkata, “Ya ‘Â`isyah, izinkan aku beribadat kepada Tuhanku.” Aku berkata, “Aku sesungguhnya senang merapat denganmu, tetapi aku juga senang melihatmu beribadat kepada Tuhanmu.” Beliau bangkit mengambil ghariba lalu berwudhu. Ketika berdiri shalat, kudengar beliau terisak-isak menangis. Kemudian beliau duduk membaca al-Qur`an, juga sambil menangis sehingga airmatanya membasahi janggutnya. Ketika beliau berbaring, airmata mengalir lewat pipinya membasahi bumi di bawahnya. Pada waktu fajar, Bilâl datang dan masih melihat Rasulullah Saw. menangis. Bilâl bertanya, “Mengapa Anda menangis padahal telah Allah ampuni dosa-dosamu yang lalu dan yang kemudian?” Beliau menjawab, “Bukankah aku belum menjadi hamba yang bersyukur. Aku menangis karena malam tadi turun surat Âli ‘Imrân ayat 190-191. Celakalah orang yang membaca ayat ini dan tidak memikirkannya.”[16]
Bagi ‘Â`isyah, seluruh perilaku Rasulullah Saw. mempesonakan. Dia mengutip saat ketika Rasulullah Saw., junjungan alam, manusia paling mulia, meminta izin kepadanya untuk beribadat di tengah malam. Bagi ‘Â`isyah, istri Rasulullah Saw., pada permintaan izin itu terkandung penghormatan, perhatian, dan kemesraan. Apa lagi yang lebih indah yang diperoleh seorang istri dari suaminya selain itu? [17]

Di luar itu, kehidupan Rasulullah Saw. amatlah sederhana, meskipun Allah memudahkan bagi kaum Muslim mendapatkan banyak ghanîmah. Dua kejadian berikut menjadi bukti akan kesederhanaan dan kebersahajaan beliau: Pertama, kejadian îlâ`. Ketika kaum Muslim mengalami banyak kemenangan, ghanîmah dan harta, para istri Nabi Saw. menuntut beliau sedikit menambah income buat belanja rumah-tangga mereka. Mereka ingin ada sedikit perubahan, dari hidup miskin dan sulit menjadi sedikit berkecukupan dan lapang. Tuntutan ini cukup membuat Nabi Saw. terganggu. Ketika Abû Bakr dan ‘Umar tahu hal ini, keduanya mendatangi putri masing-masing. Kepada putri-putrinya Abû Bakr dan ‘Umar mengingatkan bahwa Nabi Saw. tidak berkenan dengan tuntutan mereka. Sedangkan istri-istri Nabi Saw. yang lain, Abû Bakr dan ‘Umar tidak campur tangan terhadap mereka. Maka mereka pun tetap menuntut tambahan. Mereka menilai tuntutan itu wajar, terlebih kebanyakan orang Islam waktu itu hidup berkecukupan. Mereka juga menguatkan tuntutannya dengan alasan bahwa mereka selama ini sudah sabar menjalani kemiskinan, kekurangan dan kesulitan hidup. Maka setelah Allah mengkaruniakan harta dan ghanîmah yang melimpah kepada umat Islam, mereka pikir kini saatnya menghentikan kemiskinan, kekurangan dan keserbasempitan.

Nabi Saw. benar-benar terganggu dengan tuntutan para istrinya itu. Sampai-sampai beliau menjauhi mereka dan enggan bicara dengan mereka selama sebulan penuh, hingga tersebar rumor di tengah-tengah masyarakat bahwa beliau telah mencerai mereka.
Kedua, kasus takhyîr (tawaran opsi). Kejadian ini merupakan kelanjutan kejadian îlâ` (tuntutan istri-istri Nabi Saw.) di atas. Ketika para istri Nabi Saw. tetap dengan tuntutan mereka, Allah kemudian menurunkan ayat:
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar” (QS al-Ahzâb/33: 28-29).

Kepada para istrinya, Nabi Saw., mengajukan dua opsi: hidup bersama beliau dalam kemiskinan dan kesederhanaan, atau hidup tanpa beliau dalam keserbaadaan dan kelimpahan. Kepada ‘Â`isyah beliau berkata, “Bermusyawarahlah dengan kedua orangtuamu, jangan terburu-buru dalam urusan ini!” ‘Â`isyah segera menjawab, “Apakah aku harus bermusyawarah tentang Allah dan Rasul-Nya, ya Rasulullah?” Seperti diketahui, semua istri beliau pada akhirnya memilih Allah, Rasul-Nya dan negeri akhirat dalam kesederhanaan, kemiskinan, kesempitan dan kesulitan dunia. Sejarah menjadi saksi bahwa tidak ada minyak untuk menyalakan lampu di rumah Nabi Saw. pada hari beliau dipanggil Yang Mahakuasa.[18]
Jika bukan seorang nabi, terbayangkah ada orang bisa hidup seperti itu? Orang yang benar-benar mencermati hal ini dan mempelajari sîrah Nabi Saw., terutama kehidupan rumah-tangga beliau, tidak akan sampai menuduh beliau Saw. sebagai seorang pengumbar syahwat dan pencari kepuasan materil.

Oleh: Dr. E.M. Sangadji, M.Si.

Posted in: /Artikel