Orang Orang Fasiq

Posted on Desember 17, 2013

0


(Tafsir Surat al-Baqarah, 2: 26-27)

Fisq atau Fusuq secara bahasa berarti keluar, karena inilah tikus disebut fuwaysiqah karena binatang tersebut suka keluar dari lubang yang ditempatinya. Secara terminologis, Ulama Mutakallimin, mendefinisikan bahwa Orang Fasiq itu adalah orang yang beriman tetapi melakukan dosa besar.

Nah… bagaimana al-Quran menjelaskan siapakah orang fasik itu ?

Allah SWT berfirman:

وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ # الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Dan tidak ada yang disesatkan dengan perumpamaan itu, kecuali orang-orang yang fasik, (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah perjanjian itu dikukuhkan, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk dihubungkannya dan berbuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi. [QS. al-Baqarah, 2: 26-27]

Berdasarkan ayat di atas, ada 3 hal yang mengakibatkan seseorang menjadi orang fasik:

Pertama: orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah perjanjian itu dikukuhkan < الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ >

Syekh Ahmad Mushthofa al-Maraghi menegaskan bahwa sesungguhnya perjajian yang dibuat manusia bersama Allah “Ahdalloh” ini ada dua macam, yakni: Ahdul Fithri dan Ahdud Dini. Ahdul Fitri adalah kesepakatan manusia menerima segenap alat kelengkapan hidup semisal akal dan panca indra, dengan ragam fungsi dan kegunaan sebagai yang ditetapkan Allah. Telinga untuk mendengar, mengimput informasi, mata untuk melihat mengimput data, selanjutnya data dan informasi yang diimput harus diolah, dianalisis dan disimpulkan oleh akal. Ketika manusia tidak menggunakan perangkat-perangkat tersebut, semisal hidupnya hanya “membeo”, mengikuti trend orang banyak, melakukan plagiarisme, nyonteks punya orang termasuk nyontek jawaban ketika ujian bagi siswa dan mahasiwa, maka itu sudah termasuk membatalkan perjanjiannya dengan Allah, yakni ahdul Fitri.

Perjanjian manusia dengan Allah yang kedua, yang disebut Ahdud Dini lanjut Ahmad Mushthofa al-Maraghi, bahwasanya seluruh manusia ketika di alam rahim itu dimintai persaksian atas ketuhanan (rububiyah) Allah, sebagai yang disebut dalam surat al-Araf, 7: 172

أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ

“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. Nah ketika manusia sudah terlahir ke dunia, lalu tidak mengakui “Ketuhanan Allah”, tidak mengimani, meyakini Allah sebagai Tuhannya, berarti dia sudah melanggar kesepakatan perjanjian dengan Allah.

Itulah sebabnya, kita dituntunkan untuk senantiasa menyegarkan/mengingat kembali perjanjian tersebut:

رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا

yang jika dibaca lalu kita tersadar dengan ucapan itu, dosa kita akan terampuni

عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ

Sa’ad bin Abi Waqqash dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, “Barangsiapa membaca ketika mendengar muadzdzin, ‘Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya, saya ridha Allah sebagai Rabb, dan Muhammad sebagai rasul, serta Islam sebagai agama, ‘ niscaya dosanya akan diampuni.” [HR. Muslim]

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ قَالَ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ

Abu Sa’id Alkhudri radliallahu ‘anhu mengatakan bahwa Rasulullah shallla Allahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang mengatakan; RADHIITU BILLAAHI RABBAN WA BIL-ISLAAMI DIINAN WA BIMUHAMMADIN RASUULAN (Aku ridha Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku dan Muhammad sebagai rasul), maka wajib baginya untuk masuk Surga. [HR. Abu Dawud]

 

Ustadz Dadang Syaripudin, MA

Posted in: /Artikel