Berqurban Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW (Bagian 1)

Posted on Oktober 7, 2013

0


Teman-temanku yang mulia, ini yang selayaknya ditunaikan shahibul kurban sejak tanggal 1 dzulhijjah kemarin malam:
Shahibul kurban (shahibul udlhiyah) tidak memotong kuku dan rambut:
Diantara yang masih kurang diketahui oleh umumnya kaum Muslimin berkaitan dengan tatalaksana berkurban adalah setiap Muslim dan Muslimah yang berniat jadi shahibul kurban dituntunkan sejak tanggal 1 dzulhijjah dituntunkan tidak melakukan pemotongan kuku dan rambut. Ini didasarkan pada hadis Nabi saw sebegai berikut:

عن أم سلمة أن النبي {صلى الله عليه وسلم} قال إذا رأيتم هلال ذي الحجة وأراد أحدكم أن يضحي فليمسك عن شعره وأظفاره

“Artinya: Dari Ummu Salamah radliyallahu ‘anha bahwa Nabi saw bersabda: Jika kamu sekalian memasuki tanggal 1 dzulhijjah dan diantara kalian ada yang berkeinginan untuk berkurban hendaklah dia tidak memotong rambut dan kukunya”(Hadis riwayat Muslim)

Merujuk pada penjelasan Abul Faraj Abdurrahman Ibnl Jauzi dalam kitabnya Kasyful Musykil min Hadits ash-shahihain, (I:1264) hadis di atas menginformasikan dua hal. Pertama, hukum menunaikan penyembeihan kurban itu bukan wajib. Diantara jumhur ulama Abu Hanifah yang berpendapat bahwa berkurban wajib bagi orang kaya yang muqim sementara Ahmad bin Hanbal mengatakan berkurban wajib atas orang kaya. Kedua. Shahibul kurban diposisikan sama dengan seorang yang sedang menunaikan ihram yang dikenai ketentuan-ketentuan tertentu. Dalam hal ini kepada shahibul kurban dituntunkan untuk tidak memotong kuku dan mencukur rambut.
Sementara, dalam kitab Faidl al-Qadir Syarh al-Jami’ ash-Shaghir, al-Hafizh Zainuddin Abdurrauf al-Minawi menjelaskan kalimat “fal-yamsik ‘an sya’rihi wa azhfaarih” sebagai “hendaklah shahibul kurban tidak memotong rambutnya untuk dibiarkan apa adanya…” (I:465). Ulama mutakhir seperti Syeikh Ibnu Jabrin dalam kitabnya as-Siraj al-Wahhaj lil Mu’tamir wal-Haaj, menambahkan, “tuntunan ini hanya berlaku bagi shahibul kurban saja dan tidak mencakup kepada isteri serta putra-puterinya” Tetapi saat salah seorang diantara anggota keluarga selain ayah ada yang jadi shahibul kurban maka tuntunan tidak memotong kuku dan rambut ini berlaku baginya.
Menariknya ada yang coba jelaskan bahwa kuku dan rambut yang tidak dipotong itu bukan milik shahibul kurban tetapi milik binatang hewan kurban. Pandangan ini mungkin muncul karena adanya hadis lainnya yang secara lahir memuat makna yang jumbuh sehingga membuka kemungkinan pemaknaan sedemikian. Hadis dimaksud adalah:

عن أم سلمة قالت قال رسول الله {صلى الله عليه وسلم} من كان له ذبحٌ يذبحه فإذا أهل هلال ذي الحجة فلا يأخذن من شعره ولا من أظفاره شيئاً حتى يضحي

“Dari Ummu Salamah, ia berkata:”Rasulullah saw bersabda:” siapa yang memiliki hewan kurban untuk disembelih maka sejak tanggal 1 dzulhijjah ia tidak boleh mencukur rambut dan memotong kukunya sedikitpun hingga ia sembelih hewan kurbannya”(Hadis diriwayatakan Muslim).

Yang membedakan hadis kedua ini dari hadis pertama adalah kata ganti (isim dlamir) yang menyertai kata sya’r dan azhfar. Secara lahir kata ganti itu bisa dijumbuhkan antara kembali kepada man (siapa) atau dzibhun (hewan kurban) sedemikian rupa sehingga ada yang memahaminya sebagai bagian dari kata dzibhun. Menariknya nyaris belum terbaca bahwa ada seorang ulama yang memaknai hadis yang kedua di atas dengan menyebutkan bahwa kata ganti tersebut kembali kepada binatang yang disembelih. Lebih dari itu hadis-hadis lain lainnya menegaskan bahwa kata ganti itu kembali kepada shahibul kurban. Berikut salah satu dari hadis itu:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أُمِرْتُ بِيَوْمِ الأَضْحَى عِيدًا جَعَلَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِهَذِهِ الأُمَّةِ ». قَالَ الرَّجُلُ أَرَأَيْتَ إِنْ لَمْ أَجِدْ إِلاَّ أُضْحِيَةً أُنْثَى أَفَأُضَحِّى بِهَا قَالَ « لاَ وَلَكِنْ تَأْخُذُ مِنْ شَعْرِكَ وَأَظْفَارِكَ وَتَقُصُّ شَارِبَكَ وَتَحْلِقُ عَانَتَكَ فَتِلْكَ تَمَامُ أُضْحِيَتِكَ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ».

Dari Abdullah bin Amr radliyallau anhuma bahwa Nabi saw bersabda, “Aku diperintahkan untuk menjadikan idul adlha ini sebagai hari raya yang diciptakan Allah untuk ummat ini. Lalu seorang shahabat menimpali,” (untuk mengisi hari raya ini) bagaimana menurut pandangan Baginda Nabi saw, jika saya tidak menemukan hewan kurban kecuali berjenis kelamin betina apakah itu sudah sempurna untuk berkurban? Nabi saw menjawab, Tidak. tetapi (kamu tambahkan) dengan memotong kuku, mencukur kumis, mencukur bulu ketiak itulah kesempurnaan berkurbanmu menurut Allah ‘azza wajalla” (Hadis Riwayat Abu Daud).

Dengan terang benderang, hadis terakhir di atas, menginformasikan dua hal sekaligus. Pertama, bahwa yang tidak dipotong dan tidak dicukur itu adalah kuku dan rambut shahibul kurban bukan kuku dan rambut hewan kurban. Kedua, membiarkan rambut dan kuku sejak tanggal 1 dzulhijah dan mencukur serta memotongnya setelah penyembelihan hewan kurban merupakan bagian dari keutamaan ibadah kurban: (bersambung…)

Ditandai: ,
Posted in: /Artikel