Hidup Bertetangga ala Rasulullah Saw

Posted on September 29, 2013

0


Pada suatu hari, Siti Aisyah r.a. memasak sup untuk kebutuhan keluarganya. Tidak ada yang istimewa dari masakan sup yang disiapkannya selain pesan Rasulullah Saw kepada Aisyah untuk memperbanyak kuahnya. Untuk apa? Tentu saja bukan untuk sekedar memenuhi tempat masakannya atau juga piring dan mangkok-mangkok yang disediakan untuk menghidangkan sup itu. Lebih jauh dari itu Rasulullah Saw punya rencana agar para tetangganya bisa mencicipi ‘sup’ hasil masakan istrinya. Kesadaran untuk berbagi kenikmatan telah mengalir dalam jiwa Rasulullah Saw, sehingga ‘sup’ pun bisa menjadi suatu yang memberi inspirasi untuk bersedekah kepada para tetangganya.


Cerita hikmah di atas sudah menjadi santapan harian para mubaligh dalam majelis-majelis taklim kita. Hanya saja implementasi dan perluasan maknanya belum banyak kita lihat dalam perilaku umat Islam sehari-hari. Karena terlalu banyak kita bicara tentang keharusan-keharusan ‘normatif’ yang cenderung melangit, sementara pembuktiannya terkantung-kantung dalam rencana-rencana di benak kita, buku-buku teks dan kumpulan ceramah para mubaligh.

Al-bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits Rasulullah Saw yang berasal dari Abu Ayyub al-anshari: “Siapa yang beriman kepada Allah Swt dan hari kemudian, hendaknya “ia” berkata baik atau diam, dan siapa yang beriman kepada Allah Swt dan hari kemudian hendaklah “ia” menghormati tetangganya dan siapa yang beriman kepada Allah Swt dan hari kemudian, hendaklah “ia” menghormati tamunya.”

Kata ‘falyukrim’ (hendaklah ‘ia’ menghormati) dalam hadist itu menandai sebuah perintah Rasulullah Saw “yang bersifat nasional” kepada tiap orang yang beriman. Maknanya setiap pribadi orang yang beriman harus memiliki kesadaran untuk berbuat seperti yang diperintahkan, bila ia mengaku beriman. Atau dengan kata lain, pengakuan keimanan seseorang harus dibuktikan dengan adanya kesadaran untuk berbuat sesuatu yang diperintahkan di dalam hadits itu.

Pernyataan untuk diri kita yang mengaku beriman ini, “Sudahkah kita memiliki kesadaran untuk berbuat yang selalu diperintah oleh Rasulullah Saw di dalam hadist tersebut?” Termasuk di dalamnya berbuat sesuatu yang terbaik untuk tetangga kita. Atau jangan-jangan kita masih terlalu bisa berbangga diri dengan kebahagiaan kita sendiri tanpa kesediaan untuk berbagi kebahagiaan kepada tetangga kita? Arogan dan mengaku hebat di tengah keterpurukan sosial para tetangga kita?

Betapa banyak tetangga kita yang masih memerlukan bantuan kita, bahkan hanya untuk sekedar semangkok sup masakan kita. Tetapi kita masih enggan berbuat sesuatu, bahkan masih bisa tertawa di tengah tangis para bayi tetangga yang merengek minta sebotol susu dan di satu saat belum bisa disediakan oleh bapak-ibunya karena keterbatasan uang yang mereka miliki. Ironisnya kita masih terlalu yakin untuk meminta surga dari Allah dengan sikap ketidakpeduliaan kita itu. Sungguh tidak pantas tentunya. Surga Allah terlalu murah bila disediakan untuk orang-orang kikir, yang dengan kelimpahan rezeki dari Allah ia tega membiarkan para tetangga bersusah payah “kelaparan”, sementara diri dan keluarganya berlimpah kekayaan.

Rasulullah Saw mengajarkan hidup bertetangga, membangun harmonisasi dengan tetangga, saling mengulurkan tangan dalam kesusahan, dan saling memberi penghargaan dan keselamatan manakala tetangga mendapat keberuntungan, hingga untuk urusan kuah sup pun beliau perhatikan untuk berbagi kepada para tetangga beliau. Istri, anak dan para sahabatnya diberi contoh kongret bagaimana seharusnya hidup bertetangga. Tidak hanya sekedar berwacana, tetapi melangkah dengan tindakan nyata: “membangun solidaritas dengan sedekah”.

Kini, kita sedang menghadapi kendala internal diri kita sendiri untuk menjadikan contoh kongret dari Rasulullah Saw menjadi perilaku sehari-hari kita. Karena cara berfikir kita yang kurang tepat tentang makna bertetangga, kita justru lebih peduli untuk menunggu pemberian daripada bersegera untuk memberi.
Mentalitas mustahiq (mendahulukan untuk berpikir tentang hak) dalam diri kita kadang jauh lebih kuat daripada mentalitas mutashaddiq (mendahulukan untuk menjadi orang-orang yang berkesadaran untuk menyantuni dan memperdayakan tetangga), seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

Bahkan, lebih ironis lagi, masih banyak orang di kanan kiri kita yang tidak hanya tidak berkesadaran untuk berbagi kebahagiaan kepada para tetangga, tetapi justru merampas hak para tetangga dan menciptakan penderitaan dengan potensi-potensi yang telah diberikan oleh Allah kepadanya. Berbuat zalim dengan ilmu, kekayaan dan kekuasaan demi kepuasan hidup pribadi dan orang-orang yang dipentingkan olehnya, lebih dianggap penting dari pada para tetangganya.

Bayangkan, dalam sebuah kasus, betapa zalimnya ketika mereka (para perampas hak) itu mengusir para tetangganya, mengabaikan mereka yang membutuhkan pertolongan “medis”, sehingga karena ketidakmampuannya pasien miskin itu terpaksa berobat kepada paranormal. Sementara dalam ketidakpunyaannya mereka sekali lagi mencoba mengeluh kepada kaum aghniya’. Ternyata hasilnya pun nihil. Lebih ironis lagi ketika mereka mengadu kepada para wakil rakyatnya, para wakil rakyat itupun seolah tak mendengar jerit tangis mereka. Padahal Rasulullah Saw pernah berpesan “sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah mereka yang terbaik pada tetangganya.” Atau dalam riwayat lain diriwayatkan “barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah dia sakiti tetangganya.”

Nasihat-nasihat dan perilaku Rasulullah Saw itu tentu saja harus menjadi acuan kita umat Islam hingga kini dimanapun kita berada. Dan ketika kita masih tidak peduli terhadap tetangga kita, apalagi kita mampu berbuat sesuatu yang terbaik untuk para tetangga kita yang tengah dilanda keterpurukan dan membutuhkan uluran tangan kita, dan kita masih bersikap acuh tak acuh terhadap nasib mereka, maka pengakuan keislaman apa yang mesti kita banggakan lagi, selain hanya sekedar slogan tanpa makna.

Dengan lugas kita pun bisa berkata, bahwa kita masih jauh dari perilaku Rasulullah Saw dalam bertetangga. Dan Azab Allah lebih rasa-rasanya pantas kita terima daripada rahmat-Nya. Na’udzu billahi min dzalik.

 

Oleh:
Ust. Niko Ismail
Da’i MTDK PPM, Bertugas di Tanah Papua

 

[EDISI NO. 24/X DZULKAIDAH 1434 HIJRIYAH ]

tabligh.or.id

http://www.sangpencerah.com/2013/09/hidup-bertetangga-ala-rasulullah-saw.html

Posted in: /Artikel