Kesetaraan Gender Dalam Islam (Website Sang Pencerah)

Posted on September 7, 2013

0


imagesProfesor Dr Mustafa al-Saba’i dalam kitabnya yang bertajuk ‘Al-Mar atu baina al-Fiqh wa al-Qanun’ menjelaskan bahwa masa Peradaban Yunani yang dianggap sebagai tahap peradaban yang boleh dibanggakan pada zaman itu, wanita dikurung di dalam rumah, tidak diberi kesempatan untuk belajar dan dihina serta dianggap sebagai pelayan yang najis. Wanita juga boleh dijual beli seperti barang dagangan. Mereka tidak memiliki hak apa-apa dalam hidup selain dari makan, minum, tempat tinggal dan pakaian. Pada puncak peradaban Yunani wanita dijadikan sebagai alat pemuas nafsu lelaki, dengan model-model wanita telanjang yang dapat merusak moral.
Begitu juga dalam Perundangan Romawi, nasib wanita sangat menyedihkan. Ketika masa muda, remaja, wanita dikerangkeng di bawah kekuasaan penjaganya atau walinya, apakah itu bapaknya atau datuknya sendiri. Kekuasaan seorang wali tidak terbatas, dia boleh mengusir wanita dari rumah, atau menjualnya tanpa satu undang-undang pun yang membela hak-hak mereka. Lebih lanjut Profesor Dr Ali Abdul Wahid Wafi dalam kitabnya‘Al-Mar atu fi al-Islam menjelaskan bahwa setelah menikah kepemilikan wanita berpindah kepada suaminya dan terputuslah hubungan dengan keluarga asalnya.
Dalam kitab suci agama Yahudi ‘Thalmud’ disebutkan bahwa tidak boleh seorang perempuan Yahudi mengadu kepada siapapun jika dia mendapatkan suaminya melakukan hubungan seks dengan perempuan lain walaupun di dalam rumahnya sendiri. Di dalam Kitab itu juga ditegaskan bahwa laki-laki Yahudi boleh melakukan apa sahaja kepada isterinya, ia boleh menikmatinya sebagaimana dia menikmati sepotong daging yang dibeli di pasar, apakah dia mau merendamnya, membakar atau apa saja yang dia suka, bahkan melemparkannya. Di Inggris, pada tahun 1931 seorang suami telah menjual isterinya dengan harga 500 paun. Dalam majalah ‘Hadrat al Islam’terbitan tahun 1916 memuatkan kisah seorang Itali yang menjual isterinya kepada seorang lelaki dengan bayaran secara cicilan.
Pada tahun 611 M sejak dimulai masa Kerasulan Nabi Muhammad Saw, Islam telah melakukan reformasi besar-besaran terhadap kedudukan wanita di depan hukum, dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, apalagi ajaran Islam telah mewajibkan kepada pemeluknya untuk menghormati dan memuliakan ibu-bapaknya, dan suami wajib memberikan perlindungan kepada isterinya serta mempergaulinya dengan cara yang makruf.
Jadi, menghadapkan perjuangan kesetaraan gender kepada Islam sangat salah sasaran, karena Islam sejak 14 abad yang silam telah menempatkan wanita pada kedudukan yang terhormat dan bermartabat. Sangat berbeda dengan perlakuan barat sampai hari ini yang telah mengeksploitasi wanita dengan cara yang lebih halus lewat pengaburan nilai-nilai.
Buya Risman Muchtar 
Pengurus Majelis Tabligh PP Muhammadiyah
Posted in: /Artikel