Argumentasi Cerdas Abdullah bin Abbas

Posted on September 5, 2013

0


pemuda-islam-harus-cerdas1Banyaknya kelompok-kelompok menyimpang saat ini bukanlah hal yang baru dan mengejutkan. Sejarah telah mencatat, bahwa penyimpangan sudah terjadi pada abad pertama setelah Nabi Muhammad –shallu ‘alayhi wassallam– wafat. Biasanya penyimpangan ini dipicu oleh sikap politik yang terlalu emosional atau fanatisme berlebihan. Ingatlah tentang perselisihan soal pembunuhan Khalifah Utsman, yang berujung pada berseterunya 2 kubu politik: Syiah Ali dan Syiah Muawiyah. Setelah perseteruan politik bisa diakhiri oleh perundingan damai (tahkim), muncul kelompok baru yang keluar dari kedua kubu. Ya, merekalah Khawarij al-Haruri.
Mungkin sudah tidak terhitung lagi jumlah kelompok menyimpang yang ekstrim dan berbahaya. Semua ini harus ditangani dan diselesaikan. Mari kita tengok bagaimana sahabat Nabi, Ibnu Abbas Sang Penerjemah Al Qur’an menghadapi mereka.
Berdebat dengan Khawarij
Ketika muncul kelompok Haruriyah (Khawarij), mereka memisahkan diri di satu perkampungan, jumlah mereka 6000 orang dan bersepakat untuk menyempal (memberontak) dari Ali radhiyallahu ‘anhu. Pada suatu hari Ibnu Abbas mendatangi Ali radhiyallahu ‘anhu sebelum shalat Dzuhur dan berkata kepadanya, “Wahai Amirul Mukminin akhirkan shalat agar saya dapat mengajak bicara mereka.” Beliau berkata, “Saya khawatir mereka akan mencelakai kamu.” Ibnu Abbas menjawab: “Tidak akan, karena saya seorang yang berakhlak baik dan tidak pernah menyakiti seorang pun”.
Ali mengizinkan Ibnu Abbas. Ibnu Abbas segera mengenakan pakaian yang paling bagus dari pakaian Yaman dan menyisir rambutnya kemudian menemui mereka di tengah hari saat mereka sedang makan. Kelompok ini adalah kaum yang bersungguh-sungguh (dalam ibadah), dahi-dahi mereka hitam karena banyak bersujud, tangan-tangan mereka kasar seperti kasarnya unta dan mereka mengenakan ghamis-ghamis yang murah dan tersingkap serta wajah-wajah mereka pucat menguning.
Ini adalah dialog antara Ibnu Abbas dengan kelompok Khawarij Al-Haruri:
Saya (Ibnu Abbas) memberi salam kepada mereka dan mereka menjawab, “Selamat datang wahai Ibnu Abbas, pakaian apa yang engkau pakai ini?!”
Saya menjawab, “Apa yang kalian cela dariku? Sungguh saya telah melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallamsangat bagus sekali ketika mengenakan pakaian Yaman.” Kemudian Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu membacakan Firman Allah Subhanahuwa Ta’ala:
قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِوَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِالدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍيَعْلَمُونَ
Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat.” Demikianlah kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang Mengetahui. (Q.S. Al ‘Araf : 32)
Lalu mereka berkata: “Apa maksud kedatangan engkau?”
Saya katakan kepada mereka: “Saya mendatangi kalian sebagai utusan para sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam dari muhajirin dan anshar dan dari sepupu Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan menantunya sedangkan Al Qur’an turun pada mereka sehingga mereka lebih mengetahui terhadap ta’wilnya dari kalian dan tidak ada di kalangan kalian seorang pun dari mereka. Sungguh saya akan menyampaikan kepada kalian apa yang mereka sampaikan dan saya akan sampaikan kepada mereka apa yang kalian sampaikan.”
Lalu sebagian mereka berkata, “Janganlah kalian berdebat dengan orang Quraisy karena Allah Ta’ala berfirman: بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ (“Sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar”/Q.S. Az-Zukhruf : 58). Kemudian bangkit kepadaku sebagian dari mereka dan berkata dua atau tiga orang, “Sungguh kami akan mengajak bicara dia.”
Saya berkata: “Silahkan, apa dendam kalian terhadap para sahabat Rasulullah dan sepupunya?” Mereka menjawab: “Tiga.”
Saya katakan: “Apa itu?” Mereka mengatakan: “Yang pertama karena dia berhukum kepada orang dalam perkara Allah sedangkan Allah berfirman:إِنِ الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ  (“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah…”/Q.S. Al An’am : 57)
Saya katakan: “Ini satu.” Mereka berkata lagi: “Yang kedua karena dia berperang dan tidak menawan dan merampas harta (yang diperangi), kalau mereka kaum kafir maka halal menawannya dan kalau mereka kaum mukminin maka tidak boleh menawan mereka dan tidak pula memerangi mereka.”
Saya katakan: “Ini yang kedua dan apa yang ketiga?” Mereka berkata: “Dia menghapus gelar amirul mu’minin dari dirinya, maka jika dia bukan amirul mukminin, dia amirul kafirin.”
Saya katakan: “Apa masih ada pada kalian selain ini?” Mereka menjawab: “Ini sudah cukup.”
Saya katakan kepada mereka: “Bagaimana pendapat kalau saya bacakan kepada kalian bantahan atas pendapat kalian dari kitabullah dan sunnah Nabi-Nya shallallahu alaihi wa salam, apakah kalian mau kembali?” Mereka mengatakan: “Ya!”
Saya katakan: “Adapun pendapat kalian bahwa dia (Ali) berhukum kepada orang (manusia) dalam perkara Allah maka saya bacakan kepada kalian ayat dalam kitabullah di mana Allah menjadikan hukumnya kepada manusia dalam menentukan harga ¼ dirham, lalu Allah memerintahkan mereka untuk berhukum kepadanya. Apa pendapatmu tentang firman Allah:
 يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ وَمَنْقَتَلَهُ مِنْكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu…” (Q.S. Al Maidah : 95). Dan hukum Allah diserahkan kepada orang (manusia) yang menghukum dalam perkara tersebut, dan kalau Allah kehendaki maka dia menghukumnya sendiri, kalau begitu tidak mengapa seseorang berhukum kepada manusia. Demi Allah apakah berhukum kepada manusia dalam masalah perdamaian dan pencegahan pertumpahan darah lebih utama ataukah dalam perkara kelinci?”
Mereka menjawab: “Tentu hal itu lebih utama.”
“Dan Allah berfirman tentang seorang wanita dan suaminya:
 وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْأَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا
“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan” (Q.S. An Nisa : 35). Demi Allah apakah berhukum kepada manusia dalam perdamaian dan mencegah pertumpahan darah lebih utama dari berhukum kepada manusia dalam permasalahan wanita?! Apakah saya telah menjawab hal itu?”
Mereka berkata: “Ya.”
Saya katakan: “Pendapat kalian: ‘Dia berperang akan tetapi tidak menawan dan merampas harta perang’, apakah kalian ingin menawan ibu kalian Aisyah yang kalian menghalalkannya seperti kalian menghalalkan selainnya, sedangkan beliau adalah ibu kalian? Jika kalian menjawab: ‘kami menghalalkannya seperti kami menghalalkan selainnya’, maka kalian telah kafir. Allah berfirman: النَّبِيُّأَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ (“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka”/Q.S. Al Ahzab : 6), maka kalian berada di dua kesesatan. Silahkan beri jalan keluar apakah saya telah menjawabnya?”
Mereka berkata: “Ya.”
“Sedangkan masalah dia (Ali radhiyallahu anhu) telah menghapus gelar Amirul Mukminin dari dirinya, maka saya datangkan kepada kalian apa yang membuat kalian ridha, yaitu bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam  pada hari perjanjian Hudaibiyah berdamai dengan kaum musyrikin, lalu berkata kepada Ali, “Hapuslah wahai Ali (tulisan)Allahuma Innaaka Ta’lam Ani Rasulullah (wahai Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku adalah Rasulullah) dan tulislah (kalimat) hadza ma sholaha alaihi Muhammad bin Abdillah (ini adalah perjanjian yang dilakukan oleh Muhammad bin Abdillah).” Demi Allah, sungguh Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam lebih baik dari Ali dan beliau menghapus (gelar kerasulannya) dari dirinya dan tidaklah penghapusan tersebut berarti penghapusan kenabian dan dirinya. Apakah aku telah menjawabnya?”
Mereka berkata : “Ya”
Kemudian kembalilah dari mereka dua ribu orang dan sisanya memberontak dan berperang di atas kesesatan mereka lalu mereka diperangi oleh kaum Muhajirin dan Anshor. Sungguh kisah ini menggambarkan kecerdasan seorang Ibnu Abbas. [mrh/dbs]
Posted in: /Artikel