Bung Karno dan Muhammadiyah

Posted on Juli 27, 2013

0


Bung Karno dan Muhammadiyah“Makin lama makin cinta pada Muhammadiyah. Saya ingin bila
kelak saya mati, keranda saya ditutup bendera Muhammadiyah.”

Ini ucapan Bung Karno. Ketika tokoh ini kemudian wafat dalam kesepian di Wisma Yaso, Jakarta, jenazahnya disalatkan oleh almarhum Buya Hamka, tokoh yang pernah disudutkannya secara politis. Buya Hamka bersedia menyembahyangkan Bung Karno karena Menteri Sekretaris Negara Alamsyah, waktu itu, membujuk agar Buya berbesar jiwa.

Saya dengar alasan ini dari Buya Hamka sendiri dalam suatu salat Jumat di Mesjid Agung Al-Azhar, Jakarta. Saya tidak tahu pasti, adakah keranda Bung Karno kemudian ditutup bendera Muhammadiyah. Samar-samar saya ingat, ada berita dari seorang warga Muhammadiyah, bahwa wasiat beliau dipenuhi.

Nurcholish Madjid pernah menulis di harian Pelita, komitmen kita sebagai umat Islam ialah komitmen pada nilai, bukan pada golongan. Pemikiran ini menarik. Kita tahu, nilai memiliki kepastian relatif. Sedang golongan tidak. Seseorang boleh “berkulit” haji, berbendera Muhammadiyah atau NU memang; tapi jaminan dari orang itu bahwa ia akan senantiasa lurus dan bersikap luhur sebagaimana nilai-nilai yang melekat pada baju yang dipakainya, tidak ada.

Bagaimanakah corak pemihakan Bung Karno pada Muhammadiyah? Kita tidak tahu. Bung Karno sendiri tak secara eksplisit menjelaskannya. Sementara itu sumber tertulis tidak ada. Dugaan saya, Bung Karno punya banyak komitmen nilai, sekaligus golongan. Di tengah kaum Marhaen, ia bilang ia juga Marhaenis. Di tengah orang-orang Komunis dia bilang bahwa dia seorang Marxis. Orang pun tahu, ia juga menyebut dirinya seorang agamawan.

Apakah Bung Karno plin-plan? Ia Bapak bangsa. Ia merasa harus berdiri di atas semua golongan. Agaknya ia beranggapan, meskipun tak dikatakannya, keragaman identik dengan perpecahan. Sedang ia gandrung akan persatuan. Kata Bernard Dahm, hanya Bung Karno-lah yang karena ke-Jawa-annya, bisa menggabungkan ketiga hal berbeda satu sama lain itu ke dalam satu sintesa harmonis. Karena bagi orang Jawa, segala sesuatu itu pada dasarnya satu.

Dalam salah satu sajak religiusnya, Farriduddin Attar memandang Dunia, penyair Taufiq Ismail bicara tentang pemikiran Attar. Bagi Attar, katanya, dunia ini nampak sebagai sebuah kotak. Manusia hidup, beranak, bercucu, berkemenakan, bekerja, tidur dan bermimpi, di dalam kotak. Manusia, di dunia ini, kerjanya sibuk membuat kotak-kotak.

Amir Machdum, guru saya, melarang saya masuk partai politik. Alasannya, partai mengurung, membatasi kita. Padahal ia sendiri, dulu, orang PNI. Saya sendiri anak Muhammadiyah karena lahir di lingkungan Muhammadiyah, dan sekolah di sekolah Muhammadiyah. Setelah saya tahu NU, ibadah saya mirip NU tapi “partai” saya tetap Muhammadiyah.

Ketika mahasiswa, kotak yang saya pilih HMI. Tapi ketika Ogi Indra Yoga, golongan independen, mencalonkan diri jadi ketua Senat Mahasiswa FIS UI (nama dulu), saya mendukungnya karena dia populer, rajin bekerja, dan mau berpikir. Masriel Mansyur, lawannya dari HMI, tidak saya dukung. Benar dugaan saya, Masriel kalah. Toh saya menolak tawaran Ogi, sang pemenang, untuk menjadi salah satu stafnya. Saya memperlihatkan solidaritas terhadap kawan-kawan HMI lain, yang tak satu pun mendapat tawaran Ogi. Dalam hal ini, saya tegas memperlihatkan warna “jaket” HMI. “Lebih baik, kalau tidak mau, bilang saja tidak mau. Jangan banyak alasan,” katanya.

Belakangan saya mikir, kita gandrung demokrasi dan sadar akan kebhinekaan etnis, agama, dan corak pemikiran dalam masyarakat kita, tapi mengapa kita tak cukup longgar mendengar argumen lain yang tak sejalan dengan kita? Mengapakita tak sabar menghadapi kebhinekaan? “Kalau mau serba seragam,” kata Rendra, “lebih baik jadilah pembuat batu bata.”

Keseragaman memang mengesankan berfungsinya mesin rekayasa yang otoriter, kaku, dan dingin, mirip teriak kebulatan tekad yang mekanistis. Saya lebih suka kebhinekaan. Tapi dalam kebhinekaan ada cacat yang tak saya sukai. Di sini orang bisa, dan mungkin mudah, tergelincir ke dalam kotak fanatisme yang selalu siap mengurung kita.

Potensi ricuh dalam kotak ini sama besar dengan rasa sumpek di bawah keseragaman yang serba otoriter. Kedua-duanya, dengan kata lain, punya kemungkinan untuk jadi jelek. Namun, karena lazimnya orang harus memilih, bagi saya, kebhinekaan itu baik, asal kita tidak terkurung. Artinya, di saat diperlukan, kita harus bisa keluar dari kepompong (agama, kelompok, golongan, etnis, partai politik) yang mengurung kita karena, sekali lagi mengutip Nurcholish Madjid, komitmen kita pada nilai, bukan pada golongan.

Source: Mohammad Sobary, Editor, No. 24/Thn. IV/23 Februari 1991

Ditandai:
Posted in: /Artikel