Cara Ummat Islam Indonesia Memperlakukan Al Qur’an Sebuah Kajian Fenomenalogis

Posted on Juli 11, 2013

0


Dalam qur’an Allah berfirman dalam surat albaqaroh ayat 2 yang artinya “ (Al Quran) yang kami firmankan itu isinya benar tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”, substansi takwa yaitu memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-perintah-Nya; dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya; tidak cukup diartikan dengan takut saja. Di ayat lain dalam surat Albaqaroh Allah juga berfirman: 185. “Beberapa hari yang ditentukan itu ialah di bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”
Dari kedua ayat di atas kita bisa menyimpulan bahwa Allah SWT menurunkan Al qur’an itu berfungsi sebagai petunjukan bagi manusia secara keseluruhan tidak perduli orang itu Islam atau bukan Islam, walaupun di ayat kedua surat Al Baqaroh Allah membatasi hanya untuk orang-orang yang bertaqwa.

Dengan demikian manusia sebenarnya tidak bisa beralasan bahwa ketika dia berbuat dosa, melakukan maksiat, tidak menjalankan perintah Allah karena alasan dia belum mendapat petunjuk atau hidayah dari Allah. Sebab petunjuk Allah itu sudah turun ya berupa kitab suci Al Qur’an itu. Sebagai manusia banyak orang malas membaca, mempelajari al Qur’an apa lagi memahami dan mengamalkannya. Dengan demikian sesungguhnya dia tidak mau menerima petunjuk dari Allah melalui Qur’an.
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah manusia-manusia Muslim di Indonesia sudah menjadikan Qur’an menjadi petunjuk ? Untuk menjawab pertanyaan ini penulis mencoba menjelaskan tentang bagaimana fenomena masyarakat Indonesia memperlakukan Al Qur’an dalam kesehariannya, yang menunjukkan apakah dia itu telah menjadikan Al Qur’an sebagai petunjuk atau belum.

Perlakuan Masyarakat Indonesia terhadap Qur’an

1. Banyak masyarakat Indonesia mengaku Muslim tapi tidak bisa membaca Qur’an.

Banyak orang tua lebih bangga anaknya pandai bahasa Inggris dari pada belajar Qur’an, pada hal dia lupa ketika meninggal nanti malaikat tidak akan menanyakannya dalam bahasa inggris. Bahasa Inggris itu penting tetapi mempelajari Al Qur’an itu jauh lebih penting karena ia menjadi buku pintar menjadi petunjuk kehidupan kit sebagai muslim bahkan Qur’an menyatakan bagi semua manusia. Orang Indonesia itu hanya mengenal Qur’an ketika akan menikah karena dijadikan mas kawin atau ketika mau meninggal karena menjadikan tradisi membaca Qur’an ketika memperingati hari-hari meninggalnya orang. Pada hal mereka lupa Qur’an itu petunjuk untuk orang hidup bukan untuk orang yang sudah meninggal

2. Banyak orang bisa membaca Qur’an tetapi tidak paham isinya.

Niat membaca Qur’an itu sekedar mencari pahala. Tapi apakah benar orang yang membaca Qur’an tapi tidak paham itu mendapatkan pahala ? Jika saya sebagai dosen bahasa inggris, ketika memberi ulangan dalam bahasa Inggris, mahasiswa saya hanya bisa membaca saja tanpa mengerti apa lagi menjawab soalnya, bagaimana mungkin saya akan memberinya nilai ? Banyak umat Islam dalam bulan romadlon ini melakukan tadarus membaca Qur’an sehabis sholat taraweh sampai menjelang subuh tetapi tidak paham isi Qur’an sama sekali. Kalau dia tidak paham bagaimana mungkin dia menjadikan Qur’an itu menjadi pentunjuk ?. Makanya jangan heran banyak sekali orang membaca Qur’an tetapi setelah itu anaknya berpacaran secara bebas dibiarkan, walaupun barangkali dia baru saja membaca “Wala taqrabu Zinna” jangan mendekati zina. Atau ada orang yang baru saja membaca Qur’an tetapi pulang masih saja melakukan tindakan korupsi.

3. Pandai membaca Qur’an, memahami isi Qur’an tetapi tidak pernah mempraktekkan isi Qur’an.

Kasus korupsi akhir-akhir ini yang melibatkan beberapa ustadz lulusan Arab Saudi yang nota bene pandai membaca Qur’an memahami isi Qur’an namun tidak mempraktekkan isi Qur’an. Memprihatinkan memang. Rasulullan suatu saat bersabda. Tahukah kalian di akhirat nanti itu banyak sekali orang sholat, zakat, puasa, tetapi mereka itu digolongkan Allah sebagai mereka yang membelakangi isi Qur’an atau membohongi isi Qur’an ? lalu para sahabat bertanya, siapa gerangan mereka itu ? Jawab Rasulullan mereka itu adalah mereka yang mengaku Muslim namun tidak pandai membaca Qur’an, tidak paham isi Qur’an dan tidak mempraktekkan isi Qur’an. Kita pernah punya menteri lulusan Perguruan tinggi dari Arab saudi, hafal Qur’an, Juri Hafalan Qur’an, menteri agama tetapi terlibat korupsi hal ini berarti dia pandai membaca Qur’an, paham Qur’an tapi idak pandai mempraktekkannya.

4. Qur’an hanya dijadikan ajimat
Banyak kasus di masyarakat kita menunjukkan bahwa banyak pejabat kita jika ingin jabatannya langgeng atau banyak orang yang ingin kepilih menjadi Bupati, Gubernur, bahkan Presiden atau anggota DPR maka mereka datang ke Kyai tertentu (tentu saja bukan Kyai benaran). Atau banyak orang yang ingin dagangannya laris maka mereka datang ke kyai gadungan tersebut untuk meminta doa. Namun yang diberikan adalah tulisan-tulisan arab yang dijadikan jimat agar supaya dapat kepilih menjadi gubernur, bupati atau presiden atau barang dagangannya laris. Pada hal dia lupa tindakannya mendatangi Kyia gadungan tersebut saja membuat sholatnya 40 hari tidak diterima Allah SWT. Bahkan dalam Qur’an Allah berfiman, “Jika sesorang menggantungkan buhul-buhul dalam rumahnya dan diyakininya dapat melindunginya maka mulai hari ini saya (Allah) tidak rela menjadi Tuhannya, mintalah perlindungan kepada buhul-buhul tersebut kata Allah”. Makanya jangan heran banyak sekali orang yang suka sholat, puasa, haji dan zakat, tapi kenapa selalu saja diganggu Jin jahat, karena mereka sudah menyelingkuhi atau mempersekutukan Allah melalui kepercayaan akan buhul-buhul atau jimat jimat tersebut.

5. Qur’an hanya diringkas menjadi surat yasin.

Orang Indonesia itu paling aneh. Selalu saja mengistimewakan surat Yasin jika dibandingkan surat lain dalam Qur’an. Pada hal semua surat dalam Qur’an itu itu sangat Istimewa karena datangnya dari Allah SWt. Isi surat yasin itukan hanya berceritra tentang, kejadian langit dan bumi, kejadian manusia, perputaran galaksi-galaksi di alam raya ini sampai kepada ceritara tentang barang siapa yang amalanya baik di dunia maka dia akan masuk surga tetapi jika amalnya jelek maka akan masuk neraka. Namun ketika kita bertanya tentang puasa romadlon maka dia berada dalam surat Al Baqaroh, ketika kita bertanya tentang aturan berumah tangga maka dia berada dalam surat Annisa, ketika kita bertanya tentang persoalan berbisnis atau muamalah maka dia berada dalam surat almaidah, ketika kita bertanya tentang tata cara berhaji maka dia berada dalam surat al Hajj dst. Sehingga mestinya kita jangan sekali-kali menjadikan satu surat dalam Qur’an itu lebih istimewa dari surat yang lain. Kalau surat alfatihah itu istimewa ya karena semata-mata surat tersebut sebagai ummul surat dan harus wajib dibaca pada setiap rak’at sholat. Tidak lebih dari itu. Rasulullah itu ketika kedatangan wahyu beliau setengah mati menanggung beban berkeringat, ketika dipeluk Jibril di gua hira, atau sedang menunggang unta, untanya nggak kuat lalu berhenti, mengapa kita hanya mengistimewakan surat yasin saja jika dibandingkan surat lain dalam Qur’an.

6. Adanya kepercayaan bahwa kalau suka membaca surat Maryam maka anaknya lahir akan cantik dan kalau membaca surat Yusuf makanya anaknya menjadi ganteng atau cakap.

Kalau itu do’a dan keinginan kepada Allah ya nggak papa. Tapi jangan sekali-sekali yakin bahwa setelah membaca surat Yusuf anaknya otomatis menjadi cakep, dan setelah membaca surat maryam maka anaknya menjadi cantik. Karena kepercayaan semacam ini sudah masuk ke wilayah tahayyul. Karena jika keyakinan itu yang kita imani maka saya menyarankan jangan sekali-sekali kita membaca surat al Baqaroh karena Al Baqaroh artinya sapi betina, nanti anaknya akan menjadi sapi betina ketika lahir, atau jangan membaca surat alkafirun atau surat Jin.

Kalau ingin anaknya sholeh dan sholeha maka cukup dengan membaca doa “Robbi hablana minassholihin” Ya Allah jadikan anakku keturunan ku yang sholeh atau sholeha. Bahwa ketika kita membaca surat Yusuf lalu kita mengambil hikmah dari padanya agar anak kita beriman ya nggak papa, sebagaimana Yusuf diajak berbuat maksiat yusuf oleh wanita cantik lagi berkuasa,Yusuf menolaknya dengan mengatakan “Penjara lebih baik bagiku dari pada berbuat maksiat” atau dengan membaca surat Maryam kita bisa mengambil Hikmah tentang ketaatan Maryam kepada Allah dimana dia diperintahkan untuk hamil oleh Allah agar melahirkan nabi Isa beliau hanya menyatakan sami’na wa ato’na. Saya dengar dan saya taat.

7. Adanya kepercayan kalau selalu membaca surat Waqiah maka akan menjadi kaya raya.

Saya satu saat mengunjungi sahabat saya pengusaha restoran. Setiap saat ketika bertemu dengannya dia selalu duduk dipojok restoran lalu terus membaca sebuah buku kecil. Saya tanya apa yang kamu baca itu ? dia menjawab saya lagi membaca surat Wa qiah. Kenapa kamu membaca surat itu terus ? dia menjawab kata kyainya kalau dia membaca surat itu terus rejekinya akan bertambah terus. Saya bilang Nabi kita Nabi Muhammad Itu seorang konglomerat, untuk menjadi sukses berbisnis itu beliau harus berjalan kaki berdarah darah dari Mekkah ke negeri Syam, beliau harus secara jujur mengaku berapa harga pokok barangnya dan berapa untung yang beliau ambil yang dalam bahasa moderennya adalah nabi telah menjalankan prinsip-prinsip pelayanan konsumen yang ekselent (Service Quality excelent). Sehingga jika kamu ingin restoranmu majau maka harus dibangun Brand Image yang bagus melalui pelayanan konsumen yang prima, setelah itu kamu ber doa pada Allah. Usaha dulu baru berdoa Bung. Dai lalu manggut-manggut mendengar saran saya. Saya bilang kalau ingin sukses hanya sekedar membaca surat wa qiah maka mestinya Nabi yang dekat dengan Allah itu lebih berhak menikamitinya melalui embnaca surat Waqi’ah itu. Tidak perlu beliau harus bekerja keras.

Wallahu a’lam. Mudah-mudahan kita tidak termasuk golongan orang-orang di atas yang salam memperlakukan kitab suci Al Qur’an.

Oleh: Dr. E.M. Sangadji, M.Si.

Sumber: Status Group Facebook Muhammadiyah

Posted in: /Artikel