Cara Berwudhu

Posted on Juli 7, 2013

0


Pengantar:

Banyak di antara pembaca Suara Muhammadiyah yang meminta kepada penulis untuk melakukan analisa terhadap kualitas dan kesumberan hadis-hadis yang ada di kitab “Himpunan Putusan Majlis Tarjih Muhammadiyah”. Permintaan tersebut antara lain didasarkan pada belum adanya keterangan yang jelas mengenai kualitas hadis-hadis yang ada di HPT. Di samping itu juga karena adanya satu karya thesis pada program pasca sarjana (S-2) IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yaitu karya Drs. Chudhori yang meneliti kualitas hadis-hadis dalam HPT. Dalam penelitian thesis yang mengambil 50 buah hadis sebagai sampel, Drs. Chudori berkesimpulan bahwa 30 % di antaranya berkualitas shahih, 38 % berkualitas hasan, dan 32 % berkualitas dha’if.

Oleh karenanya, mulai nomer ini, penulis akan menghadirkan kepada pembaca analisa terhadap kualitas hadis-hadis yang ada dalam HPT. Tentunya dengan berselang seling dengan apa yang sudah kita nikmati selama ini, yaitu hadis-hadis yang ada di kitab Durratun Nasihin.

 

Apabila kamu hendak berwudhu, maka bacalah “Bismillahirrahmanirrahim”. (1).

Begitulah tuntunan pertama dari cara berwudhu yang terdapat dalam kitab Himpunan Putusan Majlis Tarjih Muhammadiyah yang diputuskan dalam Muktamar khususi Tarjih tahun 1933 di Banjarmasin. Untuk klausul tersebut kitab HPT mengambil dua buah hadis sebagai dalil, yaitu:

1.a. Hadis riwayat an-Nasaiy:

“Wudhulah kamu dengan membaca “bismillah”.

Dalam HPT hadis ini diberi penjelasan bahwa sanadnya baik. Disamping itu HPT juga menukilkan pendapat Ibn Hajar al-‘Asqalaniy dalam kitab Takhrij Ahadits al-Adzkar yang menyatakan bahwa hadis ini kualitasnya hasan shahih. Disamping itu, Imam an-Nawawi juga menyatakan bahwa bahwa hadis itu sanadnya baik.

Akan tetapi menurut penelitian Drs Chudhori dalam karya thesis yang ia kerjakan untuk menyelesaikan S-2 di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, hadis ini dinyatakan sebagai hadis yang berkualitas dha’if (Chudhori: 1988, h. 38-44). Menurutnya, hadis riwayat an-Nasaiy ini berkualitas dha’if disebabkan oleh adanya dua orang rawi. Yang pertama adalah Ma’mar yang hadisnya dari Tsabit dinilai oleh Ibn Ma’in sebagai dha’if. Dan yang satunya lagi adalah Abd al-Razzaq yang dinyatakan banyak meriwayatkan hadis-hadis munkar.

Sementara itu, hadis yang semakna dengan hadis tersebut yang berbunyi “ la- wudhu-a liman lam yadzkurismalla-hi ‘alaih” (Tidak sah wudhu seseorang bila tidak diawali dengan mengucapkan asma Allah), juga dinyatakan sebagai dha’if. Menurut Chudhori, hadis yang memiliki makna yang sama ini diriwayatkan oleh Abu Dawud. Dinyatakan sebagai dha’if karena dalam sanadnya melalui Salamah al-Laitsi yang dinyatakan sebagai munkar al-hadis, dan melalui anaknya yang bernama Ya’qub ibn Salamah yang dinyatakan oleh Bukhari bahwa ia tidak diketahui mendengar hadis dari ayahnya dan tidak diketahui pula bahwa ayahnya mendengar hadis dari Abu Hurairah.

Selain itu, hadis yang semakna tersebut juga diriwayatkan oleh ad-Darimiy melalui sahabat Abu Sa’id al-Khudriy. Akan tetapi hadis ini oleh Chudhori juga dinyatakan sebagai hadis dha’if, karena dalam sanadnya terdapat seorang rawi yang bernama Rubaih ibn Abd al-Rahman yang oleh al-Tirmidzi dan Bukhari dinyatakan sebagai munkar al-hadis.

Hadis yang ada dalam HPT yang diriwayatkan oleh an-Nasaiy tersebut adalah potongan dari hadis yang lebih panjang yaitu: ( Sunan an-Nasaiy: Thaharah: no. 77)

أَخْبَرَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ أَنْبَأَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنْ ثَابِتٍ وَقَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ قَالَ طَلَبَ بَعْضُ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضُوءًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ مَعَ أَحَدٍ مِنْكُمْ مَاءٌ فَوَضَعَ يَدَهُ فِي الْمَاءِ وَيَقُولُ تَوَضَّئُوا بِسْمِ اللَّهِ فَرَأَيْتُ الْمَاءَ يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ أَصَابِعِهِ حَتَّى تَوَضَّئُوا مِنْ عِنْدِ آخِرِهِمْ قَالَ ثَابِتٌ قُلْتُ لِأَنَسٍ كَمْ تُرَاهُمْ قَالَ نَحْوًا مِنْ سَبْعِينَ

Telah mengkhabarkan Ishaq ibn Ibrahim, telah menceritakan ‘Abdurrozzak, telah berkata Ma’mar dari Tsabit dan Qatadah, dari Anas, ia berkata, “Para sahabat nabi saw mencari (air untuk) wudhu”. Maka Rasulullah saw bersabda, “Adakah pada kamu sekalian air ?” Kemudian nabi meletakkan tangannya di dalam air dan bersabda, “Wudhulah kamu dengan nama Allah (bismillah)”. Aku melihat air keluar dari antara jari-jarinya sehingga para sahabat berwudhu semuanya. Tsabit bertanya kepada Anas, “Berapa orang yang engkau lihat”. Dijawab, “Sekitar 70 orang”.

Ma’mar adalah rawi hadis yang hadisnya diriwayatkan antara lain oleh al-Bukhariy, Muslim, Abu Dawud, Nasaiy dan Tirmidzi (Tahdzib-Tahdzib: 10, 218). Ia di ta’dil oleh banyak ulama, diantaranya Yahya Ibn Ma’in dan al-‘Ajaliy menyatakannya sebagai siqqah. Tetapi Yahya ibn Ma’in menyatakan hadisnya dari Tsabit adalah dha’if. ‘Amr ibn Fallash menyatakannya sebagai “orang yang jujur”. Ya’qub ibn Syaibah menyatakannya sebagai “siqqah, shalih, dan kokoh”. Sedangkan Ibn Hibban menyatakannya sebagai “hafidz, mutqin”. (Tadzkirat al-Huffadz: I: 190, Siyar al-A’lam VII: 5, al-Siqat li ibn Hibban VII: 484, Mizan al-I’tidal: VI: 480, Lisan al-Mizan: VII: 394, Tahdzib al-Tahdzib: X: 218, al-Kasyif: II: 282, Tahdzib al-Kamal XXVIII: 303).

Memang hadis yang ia riwayatkan ini berasal dari Tsabit yang menurut Ibn Ma’in adalah dha’if. Akan tetapi disamping ia meriwayatkan dari Tsabit, ia juga meriwayatkan dari Qatadah. Ma’mar belajar dari Qatadah sejak ia berusia 14 tahun. Dan menurut pengakuannya, setiap yang ia pelajari dari Qatadah seakan-akan terpahat dalam hatinya. (Tadzkirat al-Huffadz 1: 190). Sehingga karenanya tidak beralasan mengatakan Ma’mar sebagai rawi yang dha’if dalam hadis ini.

‘Abdurrazzak dita’dil oleh banyak ulama diantaranya adalah Abu dawud dengan mengatakannya sebagai siqqah; al-‘Ajaliy mengatakan siqqah beraliran syiah; Abu Zur’ah al-Razi mengatakan hadisnya tsabat (kokoh), Ya’kub ibn Syaibah mengatakan siqah tsabat; Ibn Hibban mensiqqahkannya; Ibn ‘Adiy mengatakan “aku harap tidak ada masalah dengan meriwayatkan hadis darinya”. (Mizan al-I’tidal IV: 342, Tahdzib al-Tahdzib VI: 278, al-Dhu’afa’ wa al-Matrukin li al-Nasaiy I: 69, al-Kasyif I: 651, Tahdzib al-Kamal XVIII: 52). Memang ia dikritik meriwayatkan hadis-hadis munkar, tetapi itu terjadi setelah ia mengalami kebutaan pada tahun 200 Hijriyah, sementara hadis yang ia riwayatkan sebelum itu adalah siqqah.(Muqaddimah Fath al-Bariy I: 419). Dan ia juga dikritik telah melakukan banyak kesalahan dalam meriwayatkan hadis dari Ma’mar, tetapi itu berkaitan dengan

hadis-hadis tentang fadhail al-A’mal yang kebanyakan periwayat hadis memang punya kriteria yang lebih longgar berkaitan dengan fadhail al-A’mal ini. Ia juga dicap sebagai pendusta karena meriwayatkan hadis-hadis tentang keutamaan ‘Ali bin Abi Thalib sehingga karenanya ia dituduh sebagai beraliran syiah (tasyayyu’).(Tahdzib al-TahdzibVI: 278, Mizan al-I’tidal IV: 342, Muqaddimah Fath al-Bariy I: 419). Pada masa itu konflik antar aliran sangat keras, sehingga orang yang memeiliki kecenderungan terhadap aliran yang berbeda dianggap telah keluar dari jama’ah dan hadisnya tidak bisa diterima. Hadis ‘Abdurrazzak juga diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim (Tasmiyah man akhrajahum al-Bukhariy wa Muslim I: 176) dan Bukhari juga berhujjah dengan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Abdurrazzak (Muqaddimah Fath al-Bariy I: 419).

Dengan demikian hadis riwayat an-Nasaiy yang memerintahkan berwudhu dengan membaca bismillahi yang diriwayatkan oleh an-Nasaiy adalah shahih lidzatihi dan dapat dipakai sebagai hujjah.

Hadis “la- wudhu-a liman lam yadzkurismalla-hi ‘alaihi” memiliki banyak jalur, antara lain dari sahabat Sa’id ibn Zaid ibn ‘Amr ibn Nufail diriwayatkan oleh Tirmidzi (Thaharah: 25), Ibn Majah (Thaharah: 392), dan Ahmad Ibn Hanbal (16054): Dari Abu Hurairah diriwayatkan oleh Abu Dawud (Taharah: 92), Ibn Majah (Taharah: 393), dan Ahmad Ibn Hanbal (9050); dari sahabat Sa’id ibn Malik ibn Sinan Ibn ‘Ubaid diriwayatkan oleh Ibn Majah (Taharah: 391), Darimiy (Taharah: 688), dan Ahmad ibn Hanbal (10943, 10944); dari sahabat Sahl ibn Sa’ad ibn Malik diriwayatkan oleh Ibn Majah (Taharah: 394); dari sahabat Asma’ binti Sa’id ibn Zaid diriwayatkan oleh Ahmad Ibn Hanbal (25894); dari ‘Aisyah diriwayatkan oleh al-Bazzar dan Abu Bakar ibn Abi Syaibah dalam kitab-kitab Musnadnya.

Terhadap Hadis “la- wudhu-a liman lam yadzkurismalla-hi ‘alaihi” ini Ahmad ibn Hanbal berkata, “Aku tidak mengetahui ada hadis yang sanadnya baik dalam bab ini”. Dan al-Bazzar berkata, “Setiap hadis yang diriwayatkan dalam bab ini tidaklah kuat (sanadnya)”. Meskipun demikian, hadis ini memiliki sanad dengan banyak jalur. Banyaknya jalur tersebut dapat saling kuat menguatkan, dan dapat mengindikasikan adanya sumber dari nabi Muhammad. Hadis yang dha’if yang banyak jalur sanadnya bisa digunakan untuk hujjah menurut Ibn Hajar al-‘Asqalaniy (Tuhfat al-Ahwadzi, syarah hadis no.25). Metode Ibn hajar ini juga digunakan oleh Muhammadiyah (HPT, 300). Sehingga karenanya hadis ini bisa digunakan sebagai hujjah.

1.b. Dan hadis yang diriwayatkan oleh Abdul Kadir ar-Ruhawiy dari Abu Hurairah:

“Segala perkara yang berguna, yang tidak dimulai dengan Bismillahirrahmanirrahim itu tidak sempurna”.

Hadis ini menurut Imam as-Suyuthi berkualitas dho’if. (al-Jami’ al-Shagir II: 93). Penulis tidak dapat menemukan kitab al-Arba’in dimana Abdul Kadir ar-Ruhawiy meriwayatkan hadis tersebut, sehingga karenanya penulis tidak dapat menganalisanya lebih lanjut. Dan sepanjang pengetahuan penulis, tidak ada rawi lain selain Abdul Kadir ar-Ruhawiy yang meriwayatkan hadis ini.

Hadis lain yang mirip dengan ini adalah hadis dari Abu Hurairah: “kullu amrin dzi-ba-lin laa yubda’u fi-hi bilhamdi lillahi aqtho’” (Segala perkara yang berguna, yang tidak dimulai dengan al-hamdu lillahi akan terputus). Hadis yang memulai dengan

alhamdu lillah ini diriwayatkan oleh Ibn Hibban (Shahih Ibn Hubban I: 173, 174), al-Baihaqiy (Sunan al-Baihaqiy al-Kubra III: 208), ad-Daruquthniy (Sunan ad-Daruquthniy), Abu Dawud (Sunan Abi Dawud IV: 261), Nasaiy (Sunan al-Kubra VI: 127), Ibn Majah (Sunan Ibn Majah I: 610) dan al-Baihaqiy (Syu’ab al-Iman: IV: 90).

Hadis ini berkualitas hasan menurut penilaian Imam as-Suyuthi (al-Jami’ al-Shaghir II: 92), Muhammad Syams al-Haqq al-‘Adhim (‘Aun al-Ma’bud XIII: 127), dan Ismail ibn Muhammad al-‘Ajluniy al-Jarahiy (Kasyf al-Khofa’ II: 156). Akan tetapi Muhammad Nashiruddin al-Albaniy menilai hadis ini sebagai hadis dha’if (Silsilah al-ahadis al-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah II: 303).

Penilaian yang berbeda terhadap hadis ini disebabkan karena dalam rawinya terdapat Qurrah ibn ‘Abdirrahman. Qurrah ini dita’dil (dianggap sebagai orang yang kredibel dalam periwayatan hadis) oleh Ibn Hibban dengan mengatakannya sebagai siqqah, dan oleh Ibn ‘Adiy yang mengatakan dengan, “Aku tidak melihat hadisnya Qurrah ada yang munkar sekali. Aku berharap tidak mengapa (meriwayatkan hadis darinya)”. Akan tetapi Qurrah juga di tajrih (dianggap tidak kredibel dalam meriwayatkan hadis) oleh Ahmad ibn Hanbal dengan mengatakan “ia meriwayatkan hadis yang sangat munkar”; oleh Yahya Ibn Ma’in dengan “dha’if al-hadis”, oleh Abu Zur’ah ar-Raziy dengan “hadis-hadis yang ia riwayatkan adalah hadis-hadis yang munkar”, dan oleh Abu hatim ar-Razi dengan “(ia) tidak kuat”. (Lisan al-Mizan VII: 342, al-Kamil fi Dhu’afa’ al-Rijal VI: 53, Tahdzib al-Kamal, XXIII: 582).

Qurrah mempunyai tabi’, yaitu shadaqah ibn ‘Abdillah yaitu dalam sanad yang diriwayatkan oleh ad-Daruquthniy. Sebagaimana Qurrah, Shadaqah ibn Abdillah ini juga di ta’dil dan di tajrih sekaligus. Ibn Hibban al-Busti menganggapnya sebagai siqqah (al-Siqat VI: 468), begitu juga dengan al-Wa’idhi (Tarikh Asma’ al-Siqat: 118). Sedangkan an-Nasaiy, Ibn Numar, Yahya ibn Ma’in, dan ad-Daruqutniy menganggapnya sebagai dha’if. Bukhari mengomentarinya dengan sangat dha’if, sedangkan Ahmad ibn Hanbal mengomentarinya dengan “sangat dha’if dan hadis riwayatnya adalah hadis-hadis munkar”. (al-Dhu’afa’ wa al-Matrukin li al-Nasaiy I: 58; al-Dhu’afa’ wa al-Matrukin li Ibn al-Jauzi II: 54).

Mempertimbangkan kredibilitas kritikus rawi (al-Jarih wa al-mu’addil), maka penulis lebih cenderung kepada pendapat Muhammad Nashiruddin al-Albaniy yang menyatakan bahwa hadis “kullu amrin dzi-ba-lin laa yubda’u fi-hi bilhamdi lillahi aqtho’” ini berkualitas dha’if

Dengan mengikhlaskan niatnya karena Allah (2)

Dalil yang digunakan HPT adalah hadis:

2.”Sesungguhnya semua pekerjaan itu disertai dengan niatnya”.

Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhariy (Sahih al-Bukhariy: Bad’u al-wahyi, no. 1), Abu Dawud (Sunan Abi Dawud: al-Thalaq, no. 1882), Ibn Majah (Sunan Ibn Majah: al-Zuhud, 4217) dengan lafal sama persis seperti yang dinukilkan dalam HPT. Hadis ini juga diriwayatkan dengan ada sedikit perbedaan pada lafalnya, tetapi tetap memiliki kesamaan arti. Adapun periwayat hadis yang meriwayatkan hadis ini dengan lafal yang berbeda tersebut adalah Bukhariy (Shahih al-Bukhariy: al-Iman, no. 52, al-‘Itq: no. 2344, al-Manaqib: no. 3609, al-Nikah: no. 4682, al-Aiman wa al-Nudzur: no.6195, al-Hiyal:no. 6439), Muslim (Shahih Muslim: al-Imarah: no. 3530), Tirmidzi (Sunan al-Tirmidzi: Fadhail al-Jihad: no. 1571), Nasaiy (Sunan an-Nasaiy:

Thaharah: no. 74, al-Thalaq: no. 3383, al-Aiman wa al-Nudzur: no. 3734), dan Ahmad ibn Hanbal (Musnad Ahmad: no. 163 dan no. 283).

Hadis ini merupakan hadis ahad pada awalnya dan masyhur pada akhirnya. Periwayat pertama sampai periwayat keempat masing-masing hanya satu orang rawi, yaitu Umar bin Khattab di tingkat sahabat, kemudian hadisnya diriwayatkan oleh ‘Alqomah ibn Waqash, kemudian diterima oleh Muhammad ibn Ibrahim ibn al-Haris, dan dilanjutkan oleh Yahya ibn Sa’id . Baru setelah periwayat yang kelima, hadis ini kemudian menyebar dan diriwayatkan oleh sepuluh orang rawi yang kemudian semakin banyak pada generasi berikutnya. Dan secara umum hadis ini merupakan hadis ahad.

Hadis ini diriwayatkan oleh orang-orang yang siqah dan merupakan hadis yang sahih lidzatihi.

Dan basuhlah telapak tanganmu tiga kali (3)

Dalil yang digunakan HPT adalah satu buah hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Humran:

3. Sungguh Usman telah minta air wudhu, maka dicucinya kedua telapak tangannya tiga kali, lalu berkumur dan mengisap air dan menyemburkan, kemudian membasuh mukanya tiga kali, lalu membasuh tangannya yang kanan sampai sikunya tiga kali dan yang kiri seperti demikian itu pula, kemudian mengusap kepalanya lalu membasuh kakinya yang kanan sampai kepada dua mata kaki tiga kali dan yang kiri seperti itu pula. Lalu berkata, “Aku melihat Rasulullah saw wudhu seperti wudhuku ini”.

Hadis ini diriwayatkan secara bilma’na oleh Bukhariy (Shahih al-Bukhari: Wudhu: no. 155 dan 159, Shaum: no. 1798, Riqaq: no. 5953), Muslim (Thaharah: no. 331 dan no. 332), Nasaiy (Sunan an-Nasaiy: Thaharah: no. 83 dan 84), Abu Dawud (Sunan Abi Dawud: Thaharah: no. 96 dan 97), dan ad-Darimiy (Sunan ad-Darimiy: Thaharoh: no. 690).

Semua jalur sanad hadis tersebut melalui Humran, kecuali jalur Abu Dawud hadis no. 96 yang melewati mutabi’ nya yang bernama ‘Abdullah ibn Ubaidillah ibn Abi Mulaikah. Meskipun Bukhari memasukkan hadis yang diriwayatkan oleh Humran ini ke dalam kitab Shahihnya di empat tempat, tetapi ia juga memasukkan Humran ini ke dalam daftar rawi hadis yang dha’if. Muhammad ibn Sa’ad ini mengomentari Humran ini dengan pernyataan, “Aku belum pernah tahu ada orang yang berhujjah dengan hadisnya”. Tetapi tidak semua ulama mencela Humran ini. Ibn Hibban memasukkannya ke dalam daftar orang-orang yang siqqah, dan ad-Dzahabi menyatakannya sebagai siqqah. Bahkan al-Hakim membantah tajrih yang diberikan kepada Humran ini dengan mengatakan “Dia diperbincangkan dengan sesuatu yang tidak ada padanya”. (al-Ruwwat al-Siqat: I: 88). Di samping itu, hadis riwayat Humran juga diriwayatkan oleh antara lain Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasaiy, Abu Dawud dan Ibn Majah. Dengan demikian hadis ini adalah sahih lidzatihi dan bisa digunakan sebagai hujjah.

Sanad mutabi’ dari hadis ini adalah sanad yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, secara berurutan para periwayatnya adalah: 1. Usman ibn ‘Affan. 2. Ibn Abi Mulaikah 3. Usman ibn Abd al-Rahman al-Taimiy 4. Sa’id ibn Ziyyad 5. Ziyyad ibn Yunus, 6. Muhammad ibn Dawud al-Iskandaraniy, 7. Abu Dawud. Seluruh rawi

dalam sanad mutabi’ ini semuanya adalah orang siqqah dan sanadnya bersambung. Sehingga karenanya sanad mutabi’ ini kualitasnya sahih lidzatihi.

Gosoklah gigimu dengan kayu arok atau sesamanya (4)

Dalil yang digunakan untuk klausul ini adalah dua buah hadis, yaitu:

4.a. Hadis yang diriwayatkan oleh Malik, Ahmad, dan Nasai:

 

“Kalau tidak khawatir akan menyusahkan ummatku, niscaya aku perintahkan kepada mereka bersiwak (menggosok gigi) pada tiap wudhu”.

Kitab HPT memberikan penjelasan bahwa hadis ini telah dianggap sebagai hadis shahih (oleh Nasai ?).

Menurut telaah penulis, hadis ini diriwayatkan oleh Malik (Muwaththa’ : al-Thaharah: no. 133), dan Ahmad (Musnad Ahmad: no. 8827, 9548, dan 10278). Penulis tidak menemukan adanya hadis ini yang diriwayatkan oleh Nasaiy. Dalam sanad hadis riwayat Malik, para rawi hadis ini secara berturut-turut adalah Abu Hurairah – Humaid ibn ‘Abdurrahman ibn ‘Auf – Ibn Syihab al-Zuhri – Malik ibn Anas yang kesemuanya adalah orang-orang yang siqqah dan sanadnya bersambung.

Akan tetapi hadis ini memiliki sedikit perbedaan matan dengan hadis yang lebih populer. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhariy (Shahih al-Bukhari: Jum’ah: no. 838), Muslim (Shahih Muslim: Thaharah: 370), Tirmidzi (Sunan al-Tirmidzi: Thaharah: 22), Nasaiy (Sunan an-Nasaiy: Taharah: 7), Ibn Majah (Sunan Ibn Majah: Thaharah: 283), Abu Dawud (Sunan Abiy Dawud: Taharah: 42), Ahmad (Musnad Ahmad ibn hanbal no. 7037, 7516, 8814, 9181, 10448), dan ad-Darimiy (Sunan al-Darimiy: Taharah: 680 yang juga diriwayatkan dari Abu Hurairah memakai redaksi “ma’a kulli sholaatin” dan “’inda kulli sholaatin” pada penghujung akhir dari hadis tersebut. Hadis ini juga diriwayatkan oleh orang-orang yang siqah dengan jumlah yang lebih banyak dan sanadnya juga bersambung.

Permasalahan adalah apakah hadis-hadis yang memiliki sedikit perbedaan matan ini disabdakan oleh nabi pada waktu dan tempat yang sama ataukah disabdakan dalam waktu dan atau tempat yang berbeda. Kalau diucapkan pada waktu dan tempat yang sama mengingat bahwa yang meriwayatkan itu bersumber dari sahabat yang sama, yaitu Abu Hurairah, maka berarti telah terjadi kesalahan periwayatan yang dilakukan oleh rawi pasca Abu Hurairah. Kasus seperti inilah yang dalam ‘Ulumul hadis disebut syadzdz, yaitu riwayat orang yang siqah bertentangan dengan riwayat orang yang lebih siqah, atau orang siqah yang jumlahnya lebih banyak. Hadis yang mengandung syadzdz tersebut dikualifikasikan sebagai hadis dha’if.

Akan tetapi kalau diucapkan dalam waktu dan atau tempat yang berbeda, maka keduanya bisa digunakan sebagai dalil mengingat keduanya diriwayatkan oleh para rawi yang siqah dan sanadnya bersambung.

Imam as-Suyuthi memberikan informasi bahwa hadis “laula- an asyuqqa ‘ala- ummati- la amartuhum bissiwa-ki ‘ala kulli wudhu-in” ini bukan hanya diriwayatkan oleh Abu Hurairah saja, melainkan Ali juga meriwayatkannya dalam kitab al-Ausath karya ath-Thabrani yang memiliki sanad yang sahih (al-Jami’ al-Shagir: II: 132). Di samping itu ada juga hadis yang berbunyi “laula- an asyuqqa ‘ala- ummati- la amrtuhum biwudhu-in, wa ma’a kulli wudhu-in bissiwa-ki” dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Ahmad ibn Hanbal dalam Musnadnya dan an-Nasaiy dalam

sunannya dengan sanad yang sahih. (al-Jami’ al-Shagir: II: 132). Dengan demikian, kedua hadis di atas kemungkinan terbesar adalah memang diucapkan oleh nabi dalam waktu dan tempat yang berbeda, sehingga keduanya bisa dipergunakan sebagai dalil.

4.b. Hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Tarikhnya dan Thabrani dari Abu Khairah Shubbahiy:

“Dahulu saya termasuk utusan Abdul Qais yang menghadap Rasulullah, maka Rasulullah menyuruh mengambilkan kayu arok, lalu bersabda, “Bersiwaklah dengan ini”.

Hadis dengan lafal matan seperti yang dikutip oleh HPT ini diriwayatkan oleh Thabraniy dalam kitab al-Mu’jam al-Kabir (XXII: 368) dengan rangkaian sanad: Abu Khairah as-Subbahiy – Ma’qal ibn Hammam – Dawud ibn Musawir –Muhammad ibn Humran ibn ‘Abd al-‘Azizi – ‘Amr ibn Muhammad ‘ar’arah – ‘Abdan ibn Ahmad – Thanraniy. Di antara para rawi tersebut ada tiga nama yang datanya tidak terdapat dalam kitab-kitab rijal, yaitu Ma’qal ibn Hammam, ‘Amr ibn Muhammad ibn ‘Ar’arah dan ‘Abdani ibn Ahmad. Dengan demikian ketiga rawi tersebut termasuk rawi yang majhul, dan hadis yang mereka riwayatkan menjadi hadis dha’if.

Disamping diriwayatkan secara lafdziy, hadis ini juga diriwayatkan secara ma’nawiy yaitu oleh as-Syaibaniy dalam kitab al-Ahad wa al-Matsaniy (III: 258) dan al-Bukhariy dalam kitab al-Kuna (I: 28) dengan rangkaian sanad: Abu Khairah as-Subbahiy – Muqatil ibn Hammam – Dawud ibn al-Musawir – ‘Aun ibn Kihmis – Khalifah ibn Khayyat. Dalam sanad ini, terdapat Muqatil ibn Hammam yang beberapa informasi tentangnya sedikit disinggung oleh al-Bukhariy dalam kitab Tarikh al-Kabir (VIII: 13) dan al-Kuna (I: 28), serta oleh Abu Hatim al-Razi dalam kitab al-Jarh wa al-Ta’dil (VIII: 353), akan tetapi tidak ada satupun yang menginformasikan tentang kualitas dan kredibilitasnya dalam meriwayatkan hadis. Rawi yang seperti ini disebut majhul al-hal dan hadis yang diriwayatkan menjadi berkualitas dha’if. Sehingga karenanya periwayatan hadis ma’nawi yang terdapat dalam HPT bab cara berwudhu no. 4b ini juga berkualitas dha’if.

Sedangkan informasi HPT bahwa hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Bukhariy dalam kitab Tarikhnya, penulis tidak menemukannya. Adapun yang penulis ketemukan adalah riwayat Bukhariy yang terdapat dalam kitab al-Kuna sebagaimana tersebut di atas.

 

——————————————-

Sumber: Suara Muhammadiyah

Oleh: Drs. Agung Danarta, M.Ag

Edisi 2 2002

Posted in: /Artikel