Islam Agama Penutup

Posted on Juni 30, 2013

0


Pertanyaan ini muncul akibat dari ketidaktahuan dan keterbelakangan yang tampak menonjol dalam kehidupan masyarakat Islam secara umum akhir-akhir ini. Yang pasti, keterpurukan budaya dan politik telah mengakibatkan ummat Islam kehilangan kemampuannya untuk memimpin dirinya sendiri. Kalau keadaan individu saja sudah seperti itu, bagaimana mungkin ummat Islam dapat memimpin dunia? Atau bagaimana mungkin ummat Islam dapat memberikan gambaran ideal bahwa ummat Islam yang pantas memimpin dunia?

Syaikh Muhammad Al-Ghazali dalam bukunya Mi’ah Su’al an Al Islam menjelaskan bahwa ada kalangan rasionalis yang tidak mau dunia ini ditarik lagi ke belakang. Mereka juga tidak mau jika gerak pikiran dan peradaban itu dibatasi. Andaikata Islam benar menjadi jalan bagi kemunduran peradaban, atau agama Islam banyak menghambat gerak laju peradaban, tentu kita sebagai ummat Islm tidak akan mengakuinya sebagai agama yang memuliakan para pengikutnya, bahkan sebagai agama yang memuliakan seluruh alam.

Para ahli fiqih akan mengatakan, “Dimana ada keadilan dan kasih sayang, maka disitulah syari’at Allah berada!”, “Dimana ada kemuliaan, kebebasan dan kemaslahatan, maka disitulah syari’at Allah berada!” Adakah yang lain yang diinginkan manusia sampai akhir zaman selain tujuan-tujuan tersebut?

Perbedaan malan dan siang tidak akan merubah hakekat sesuatu, ketika keesaan adalah sifat Allah. Maka sifat ini tidak akan berubah ataupun sirna sekalipun waktu terus berjalan. Ketika ketundukan manusia kepada Tuhannya adalah suatu kebenaran yang pasti, kemajuan peradaban tidak selamanya harus mengindikasikan bahwa manusia tidak lagi memerlukan Tuhan, dimana seseorang bisa saja tidak perlu lagi memohon dan menghiba kepada-Nya yang hal ini juga berlaku diwilayah akhlaq serta semua yang berhubungan dengan kemanusiaan.

Ketika kelompok Ahli Kitab menganggap bahwa agama dalah simbol, seremoni dan ilusi-ilusi kudus semata, maka kami yang muslim menegaskan kepada mereka, “Bukan begitu maksudnya! Agama adalah hubungan dengan Allah dan berbuat baik terhadap sesama mahluq ciptaan-Nya! Tidak akan sia-sia orang yang berbuat tulus demi Allah, dan istiqamah dengan keyakinannya.”

وَقَالُواْ لَن يَدۡخُلَ ٱلۡجَنَّةَ إِلَّا مَن كَانَ هُودًا أَوۡ نَصَـٰرَىٰ‌ۗ تِلۡكَ أَمَانِيُّهُمۡ‌ۗ قُلۡ هَاتُواْ بُرۡهَـٰنَڪُمۡ إِن ڪُنتُمۡ صَـٰدِقِينَ

Dan mereka [orang-orang Yahudi dan Nasrani] berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang [yang beragama] Yahudi atau Nasrani”. Demikian itu [hanyalah] angan-angan mereka yang kosong. Katakanlah:

“Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar!” (Surat Al Baqarah ayat 111)

بَلَىٰ مَنۡ أَسۡلَمَ وَجۡهَهُ ۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحۡسِنٌ۬ فَلَهُ ۥۤ أَجۡرُهُ ۥ عِندَ رَبِّهِۦ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ

[Tidaklah demikian,] bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak [pula] mereka bersedih hati. (Surat Al Baqarah ayat 112)

Dengan kedua ayat tersebut diatas, bukankah telah membuktikan bahw Islam pantas menjadi agama penutup bagi seluruh agama? Kenapa tidak? Tuhan telah berkata kepada seluruh manusia, “…menghadaplah kepada-Ku dengan ikhlas! sempurnakanlah amalan yang dibebankan kepada kalian, kalian akan aman dan selamat dari kesedihan, begitu juga kalian akan mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat…”

Setelah pernyaataan Allah tersebut, masih perlukah kita pernyataan lain yang menegaskan? Kemudian misi apalagi yang mungkin akan disampaikan nabi setelah  Muhammad?

Memang, ada beberapa aturan detail (syarâi’ tafshîliyyah) yang sangat erat berkaiatan dengan inti agama penutup ini dan tidak dapat diabaikan begitu saja. Namun terlepas dari itu semua, ada dua perso’alan penting yang perlu digarisbawahi berkaitan dengan pantas tidaknya Islam menjadi risalah penutup.

  • Pertama, nalar kaum muslimin lemah di hadapan bid’ah dan khurofat yang disusupkan ke dalam tubuh agamanya. Dan hal-hal yang dari luar agama ini lebih mewarnai tindakan-tindakan kaum muslimin dibanding ajaran-ajaran agama yang benar. Agar Islam tetap abadi, kepalsuan ini harus secepatnya dibersihkan.
  • Kedua, terjadinya tumpang tindih dalam urutan cabang-cabang keimanan yang semestinya. Perkara wajib menjadi sunnah, dan perkara sunnah menjadi wajib. Nalar mistis mengalahkan hal-hal yang rasional; hukum halal haram juga sudah kental dengan tradisi-tradisi lokal yang menyimpang.

Ketentuan hukum syari’at merupakan khithâb (perintah & larangan) Allah yang mengatur tindakan-tindakan manusia yang mukallaf. Semua hukum sudah ada dalam khithâb itu.

Semoga Bermanfaat

Posted in: /Artikel