Pembelajaran dan Memori

Posted on Februari 1, 2011

0


Perkembangan perilaku manusia sejak lahir hingga usia lanjut sangat dipengaruhi oleh perubahan lingkungan luar (millieu exterieur) selain oleh perubahan lingkungan dalam (milieu interieur). Pertumbuhan kecerdasan anak sangat dipengaruhi oleh variasi rangsang dari lingkungan luar. Untuk menyesuaikan perilaku terhadap perubahan lingkungan agar dapat tetap hidup di lingkungan yang keadaannya berubah-ubah dari hari ke hari atau pindah ke lingkungan yang sangat berbeda keadaannya, terwujud melalui mekanisme tubuh yang berupa proses belajar dan memori. Apabila manusia akan meningkatkan kinerjanya untuk mengatasi perubahan lingkungannya, maka faktor belajar dan memori menjadi lebih penting lagi. Sebagai contoh, kita harus belajar untuk mendapat keterampilan motorik guna mengatasi perubahan lingkungan dan kita dapat berkomunikasi karena belajar bahasa. Dapat dikatakan bahwa mekanisme tubuh yang terpenting untuk mengubah perilaku ialah pembelajaran dan memori. Bahkan untuk memahami perilaku yang menyimpang selain perilaku yang normal dilakukan melalui pendalaman tentang pembelajaran dan memori orang tersebut. Berbagai jenis penyakit dapat ditimbulkan karena perilaku yang menyimpang atau pola hidup yang tidak sehat yang pada dasarnya sangat ditentukan oleh hasil pembelajaran dan memori orang tersebut.
Untuk mampu berinteraksi dengan perubahan lingkungan dalam pembelajaran dan memori diperlukan alat sensor atau reseptor dalam tubuh yang antara lain berupa organ indera. Berbagai alat sensor tersebut dilengkapi dengan bangunan atau sel yang peka terhadap berbagai bentuk rangsang yang akan �menangkap� dan mengubah berbagai jenis rangsang tersebut melalui proses transduksi serta memberi masukan atau informasi tentang berbagai bentuk dan intensitas perubahan lingkungan. Demikian pula untuk berinteraksi dengan perubahan lingkungan melalui pembelajaran dan memori diperlukan berbagai bagian dari sistem saraf pusat (SSP) dan sistem saraf tepi (SST). Bagian tertentu SSP dan SST tersebut dapat berfungsi sebagai pengendali atau sarana untuk berkomunikasi antar organ yang terlibat dalam proses belajar dan memori baik pada tingkat organ, jaringan, sel maupun molekul.
Sehubungan dengan uraian tersebut dalam modul pembelajaran dan memori akan dibahas tentang proses fisiologik pembelajaran dan memori, struktur makro dan mikro berbagai organ atau bangunan yang terlibat serta proses biokimia dan berbagai nutrisi yang diperlukan dan dapat mempengaruhi proses belajar dan memori.
Dalam proses belajar dan memori diperlukan alat sensor atau reseptor dalam tubuh yang antara lain berupa organ indera. Setiap organ indera pada dasarnya mempunyai sifat dapat menimbulkan sensasi dan persepsi yang terbangkit oleh rangsang khusus yang sesuai (adekuat) untuk bangunan atau sel reseptornya. Meskipun setiap indera berbeda kemampuan dalam mengolah jenis rangsang yang adekuat, namun proses dasar yang terjadi melalui 3 langkah yang sama yaitu (1) menerima rangsang fisik (physical stimulus); (2) serangkaian proses pengubahan berbagai bentuk energi rangsang menjadi energi listrik; (3) terbangkitnya respons dalam bentuk sensasi atau persepsi.
Untuk setiap organ indera tersebut mempunyai jalur neuron yang berbeda serta pusat sensorik yang berbeda pula. Dalam proses pembelajaran dan memori, beragam masukan dari masing-masing organ indera tersebut selanjutnya akan diintegrasikan oleh bagian bangunan tertentu dalam otak yang dipengaruhi oleh tingkat kesadaran.
Posted in: /Artikel